penjaga warnet

Malam semakin larut, dingin, karena langit terus mencurahkan air matanya sejak sore tadi, ditambah lagi ruangan itu ac menyala sedari pagi. Novi melirik jam di ujung kanan tampilan monitornya, sudah jam 3 dinihari.
Novi mulai merasakan kantuk menyerangnya, matanya mulai berat, tapi mengingat kewajibannya, dia tetap berusaha untuk menahan rasa kantuk itu. Sudah beberapa hari ini dia bekerja di sebuah warnet milik sepupunya yang buka selama 24 jam. Dan malangnya, Novi harus menjaga warnet itu saat malam hari.
awalnya ia enggan, tapi setelah diyakinkan oleh sepupunya bahwa warnet itu aman di malam hari, maka akhirnya Novi terpaksa menurutinya. Mau gimana lagi, Anto -sepupunya itu- itu bekerja malam hari disebuah pabrik di daerah bekasi, dan baru bisa menggantikannya menjaga net itu sepulang kerja sampai tengah hari, sedangkan Dimas yg biasa shift malam di net itu sedang pulang ke kampung halamannya.
Malam itu cuma ada seorang pemuda yang sedang main di warnet itu, usianya kira2 sebaya dengan calon suaminya di kampung. Sejak sore pemuda itu sudah datang dan memang sejak awal Novi bekerja di net tersebut, pemuda itu memang selalu datang sore hari dan baru pulang saat azan subuh berkumandang.
Dia sempat berpikir tentang apa kerja pemuda tersebut, karena dalam benaknya, tidak mungkin pemuda itu bekerja di siang hari karena malam harinya dia selalu bergadang di net ini. Tapi dia sadar, inilah kota besar, pemudanya tidak seperti di kampungnya yang biasa berada di masjid saat malam tiba. Dia merasa beruntung karena calon suaminya adalah seorang aktifis dakwah, sama seperti dirinya.
“Mbak, teh botol 1 ya?” Suara itu mengagetkannya.
“Oh, iya Mas, silahkan.” Jawabnya
“Loh kuncinya mana Mba?”
“Oh, iya, ini Mas” Jawab Novi sambil menyerahkan kunci yang lupa diberikannya.
di Net tersebut, Lemari Es tempat penyimpanan minuman memang sengaja dikunci karena seringnya para user yg tidak bertanggung jawab mengambil minuman tanpa membayar saat sang operator sedang lengah.
Pikiran Novi kembali menerawang kepada sosok calon suaminya. Lelaki yg sebenarnya sudah lama dia kenal, tapi baru bisa dia dengar suaranya saat proses lamaran tepat 1 minggu sebelum Novi berangkat ke Jakarta untuk bekerja pada sepupunya pemilik warnet ini.
Dia sengaja bekerja di jakarta menjelang pernikahannya, Untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan, pikirnya.
Ya, dalam pikirannya,bisa saja mereka terjerumus di dalam dosa.. Wong yang mereka yg baru pacaran saja bisa melakukan hal2 nekad, apalagi dirinya yg sudah bertunangan. Walaupun dia yakin dia dan calon suaminya tak mungkin melakukan hal2 yg dilarang agama meskipun mereka sudah resmi bertunangan dan pelaksanaan akad nikahnya sendiri tinggal 2 minggu lagi. Intinya, 2 minggu itu masih mungkin terjadi hal2 yg tidak diinginkan olehnya.

“Tuh kan, bengong lagi, lagi mikirin apa seh, Mba?? tiba2 pemuda itu sudah berada di sampingnya lagi, dan lebih membuatnya kaget lagi.
“Eh, engga Mas, ada apa? Ada yg bisa saya bantu?” jawabnya tergagap
“Itu mba, tolong Share-in file yg ada di foldernya Dimas dong. Penting nih.”
“Oh iya, sebentar ya” Novi pun meraih Mouse dan mencari folder yg dimaksud, tapi entah karena apa, pemuda tersebut tiba2 berkata “eh, maaf Mba, biar saya aja deh yg cari, gak enak sama mba, mba kesana aja dulu sebentar.”
Novi jd bingung, dia pun melangkah sedikit menjauh, dalam hatinya, mungkin itu file rahasia yg tidak boleh dilihat oleh siapapun, kecuali oleh Dimas. Setelah beberapa saat, pemuda itu berdiri dan kembali mempersilahkan Novi duduk di bangku operator tersebut.
“Udah Mba, Makasih ya.”ucapnya sambil berlalu meninggalkan NOvi.

Novi kembali menatap jam di pojok kanan bawah monitor, hampir 1/2 4. berarti, 1 jam lagi sepupunya pulang, dan dia bisa istirahat setelah sholat subuh di rumah pamannya yg kira2 berjarak 100 meter dari net itu.
tiba2 dia teringat sesuatu, tadi sore, sebelum berangkat Anto sempat memintanya untuk memindahkan file2nya ke folder baru. Setelah membuat folder baru,dia mulai mencari file2 milik Anto yg ternyata bertebaran dimana-mana,tak terasa, saat azan subuh pekerjaan itu baru selesai, benar2 si Anto itu, brantakan sekali sih orangnya.. PIkirnya dalam hati.
Tak lama, Anto masuk ke net, dia masih keliatan segar meskipun baru pulang kerja.
“Gimana Nov? Rame Gak?? ” Tanyanya
“Cuma ada 1 orang, itu yg biasa main dari sore sampai pagi.”
“Oh si Toni ya?” Biasa dia mah. Ya udah km sana istirahat.”
“Iya, aku pulang dulu ya.. Novi pun mulai beranjak meninggalkan warnet menuju rumah sodaranya tersebut, keluarga saudaranya tersebut pasti belum pada bangun, yah mau gimana lg, dia hanya menumpang di rumah tersebut, mau bicara apa pun terasa tidak enak, untung saja dia diberi pegangan kunci cadangan, jd dia tak perlu membangunkan orang2 yg masih terlelap dalam tidurnya tersebut.

Esoknya

HUjan kembali turun sejak sore, dan kini ditambah dengan suara petir yg sesekali menggelagar di atas sana.
Lagi-lagi, sama seperti kemarin, cuma ada si pemuda yg bernama Toni di net itu.
Waktu menunjukkan pukul 1 dinihari ketika tiba2 saja listrik padam.
“Yah Mba, gimana neh??” Kata Toni setengah berteriak. Novi tidak menjawab apa2, dia sibuk mencari lilin untuk menerangi ruangan itu.
“Payah deh, lagi seru2nya pake mati lampu segala lagi,” kata Toni yg sudah berdiri tak jauh dari Novi.
“Ada lilin, MBa??
“Ada ini baru ketemu, ini saya lg cari koreknya”
“OH, ini aja, saya ada korek kok.”
sigap tangan Toni menyalakan korek dan mengarahkan apinya ke sumbu lilin yg disodorkan NOvi. Lalu lilin itu ditempatkan tak jauh dari meja server. Lumayan menerangi ruangan tersebut.
Toni meraih bangku yg ada disamping, lalu duduk disamping Novi.
Novi sempat merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, sebagai seorang akhwat – wanita yg aktif dalam kajian dan kegiatan dakwah – suasana seperti itu jelas sangat tidak berkenan dalam hatinya. Berdua2an dengan seorang pria yg tidak dikenalnya, dalam keadaan gelap dengan penerangan bermodalkan secercah cahaya lilin, wew, jelas sangat tidak nyaman baginya.
Tak sekalipun ia pernah mengalami saat2 seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksa, tak enak rasanya mengusir langganan yang setiap malam selalu datang ke warnet itu seperti Toni.
Mereka diam, tak ada hal yang bisa dibahas sebagai bahan pembicaraan.
setengah jam berlalu dalam keheningan, dan listrik belum juga menyala. Kehiningan berlalu saat Toni meminta kunci kulkas.
“Haus nih mba, aku ambil minum ya.”
untung saja Novi sudah hapal tempat kunci itu biasa diletakkan, tak lama, kunci itu sudah berada di tangan Toni. Toni bergegas mengambil minuman dan membuka tutup botolnya.
NOvi terperangah ketika Toni memberikannya sebotol teh bot**l kepadanya.
“Biar gak ngantuk,”Kata Toni singkat
“Oh, iya makasih mas, ntar biar saya bayar sendiri ya”
“Ah, jangan, biar saya aja. kan aku yg ambilin”
“Yah, terserahlah,” Akhirnya NOvi mengalah karena merasa tak enak hati.
dia tak langsung meminumnya karena TOni lebih dulu bertanya padanya.
“Katanya sebentar lagi mau nikah ya Mba?
“Iya Mas, kok tau? Dari Anto ya?
“Iya, tadi sore dia cerita. Tapi kok 2 minggu lagi nikah, mba malah ke jakarta n kerja disini?
“Ribet Mas ngejelasinnya. Intinya sih, saya mau nahan diri, itu aja.”
“Nahan diri? Nahan diri dari apaan? Tanya Toni
“Dari nafsu, saya ngga mau melakukan hal2 yg mengundang saya pada maksiat bersama tunangan saya.” Jawab Novi
“OH gitu toh, ic ic” Tony manggut2 seolah mengerti, padahal dia kurang paham apa yg dimaksud oleh NOvi.
“Di minum mba minumannya” kata Tony mempersilahkan Novi untuk meminum minuman yg telah dibelikannya.
merasa tak enak, Novi pun meminum teh pemberian Toni tersebut. Toni sendiri menatap sambil menyunggingkan senyum.
Tak lama setelah meminum minuman tersebut, kantuk yg sangat hebat tiba menyerang novi, kepalanya juga terasa sangat berat. Sempat di lihatnya jam yang baru menunjukkan pukul 2, setelah ia merasakan matanya tak sanggup lagi menahan rasa kantuk yg mendadak tiba tersebut.

NOvi terbangun saat dia merasakan ada sesuatu yg meraba payudaranya. dia seperti tersengat oleh listrik ribuan kilowatt saat dia melihat jubah yg ia kenakan telah terbuka kancing di bagian depannya, dan dia lebih terkaget2 lagi saat menyadari Toni sedang meraba payudaranya. Bra yg dikenakannya sdh tidak menutupi 2 bukit indah yg menjulang tersebut.
“Ngapain kamu, tolong hentikan, jgn macam2 kamu.” katanya sambil berusaha menepis tangan Toni yg sedang menggerayangi payudaranya. Tapi tangannya terasa sangat lemah, ia seperti tidak punya tenaga untuk mengangkat tangannya sekalipun.
Toni hanya diam, dia tak menjawab apa2. cuma Tangannya yg terus bergerak, meremas, dan sesekali menyentuh dengan lembut puting payudara Novi dengan jarinya.
Tak cuma itu, Toni pun mulai menciumi bukit indah itu, lidahnya mengulum dan menggigit kecil puting susu Novi yang masih berwarna pink tersebut. Toni tahu betul, puting susu seperti yang ada dihadapannya pasti belum pernah terjamah oleh lidah, bahkan oleh tangan lelaki lain.
Toni tak menghiraukan gadis yang terus berusaha meronta dengan tenaga nya yg lemah itu. Bahkan, tangannya pun mulai bergerak kebawah, menyelusup masuk ke dalam celana dalam Novi setelah ia membuka kancing rok yg dikenakan Novi.
Novi sedikit histeris ketika vaginanya disentuh oleh jemari toni, tapi suaranya jelas tak kan terdengar oleh siapa2, selain di luar sedang hujan, tak ada bangunan yg ada di dekat warnet itu, satu2nya bangunan terdekat adalah rumah Anto, tempat Novi menumpang, itu pun jaraknya lumayan jauh.
Toni mengusap gundukan bukit yg sedikit berbulu itu, disentuh nya dengan lembut bibir vagina tersebut sampai akhirnya Toni tak sabar dan segera melepaskan rok dan celana dalam yang membungkus bagian bawah tubuh Novi.
Novi terus berusaha berontak dengan tenaga lemahnya, rupanya, minuman yg diminumnya dicampur oleh obat bius oleh Toni, entah kapan Toni memasukkan obat bius tersebut.
Usaha berontak Novi jelas tidak berarti apa2 bagi Toni, yang ada Toni malah semakin liar menciumi payudaranya.. jarinya pun mulai berusaha untuk memasuki liang vagina Novi.
Novi menggigit bibirnya ketika dia merasakan jari tengah Toni perlahan mulai masuk ke dalam vaginanya..
Perih.. dan dia pun merasakan ada sesuatu yang mengalir dari dalam vaginanya..
“Oh, kamu masih perawan ya Nov??” tanya Toni setelah ia melihat apa yg membasahi jarinya..
bukannya Iba dan menghentikan perbuatannya Toni kembali memasukkan jarinya. dan mulai menggerakkannya keluar masuk secara perlahan-lahan, dia melakukannya dengan lembut sambil bibir dan lidah nya tak berhenti bermain di payudara gadis tersebut.
“argh …. tolong hentikan Ton.” kata Novi terbata-bata.
Nafasnya mulai memburu, tak dapat diingkari, meski perih, meski kehormatannya sedang direnggut oleh Toni, ada perasaan aneh yg menyelusup ke dalam sanubarinya.
Perasaan itu semakin menjadi2 saat jemari Toni semakin bergerak cepat di dalam vaginanya yg terasa semakin licin oleh Toni.
entah karena sebab apa, Novi mulai menghentikan usahanya untuk berontak, sebaliknya,dia malah menekan kepala Toni dengan sisa tenaganya… tentu saja hal tersebut semakin membuat Toni terbenam dalam bukit payudaranya, ciuman dan kuluman Toni pun semakin menggila, Toni terus menjilati puting yang indah tersebut.
“Arghhhhh….. Ton….ARghhhh”
“Tolong hentikan Toooonnn…”
“Memek km rapat bgt Nov, aku suka, aku juga suka sama puting susu km..” Jawab Toni sambil tangannya terus mengocok vagina Novi.
Tubuh Novi seakan mengejang, dirasakannya gerakan Toni menimbulkan perasaan yang sangat berbeda olehnya..
Rasa sakit yg tadi menderanya seakan telah hilang, digantikan oleh suatu rasa yg belum pernah ia rasakan sama sekali sebelumnya.
“Argh argh ……” Nafas Novi semakin memburu, dia sudah tak dapat lagi berkata apa2…
“ssssssshhhh …. arghhhh.” Novi mulai mendesis, gairah mulai merasuki perasaannya.

Toni sendiri menjadi semakin menjadi, di ambilnya tangan Novi dan dituntunnya tangan lembut tersebut ke arah penisnya. Karena mulai dikuasai oleh gairah yg memuncak, tak sadar Novi menuruti pemuda itu, dielusnya penis Toni yg masih terbungkus celana jins. Tak sadar pula ia mulai membuka resleting celana tersebut dan menyelusupkan jemarinya ke dalam celana dalam Toni.
Tubuh nya terus terasa kejang akibat gerakan jari Toni di dalam vaginanya, gerakan Jemari toni pun semakin cepat, tak sabar, ia menuntun tangan gadis itu untuk menyentuh penisnya.
“Pegang seperti ini Nov,” Katanya sambil membimbing tangan gadis itu untuk menggenggam penisnya..
“Ya Seperti itu. Arghhh…” Toni berkata sambil merasakan nikmat ketika Novi mulai menggenggam penisnya.
Novi benar2 telah bergerak berdasarkan instingnya, perlahan dia mulai menggerakkan genggamannya, dia gerakkan penis Toni, diputarnya dengan bergairah.
“Arghhh Ton,,, Ton..” Novi meracau dengan desahan nafasnya yg semakin tak beraturan..
dia benar2 merasakan kenikmatan dari gerakan jari Toni yg keluar masuk vaginanya yg semakin basah. sesekali Toni menciumi payudara gadis itu.
Mereka terus bercumbu di tengah temaram lilin, suara rintik hujan semakin membuat Toni bergairah mencumbui gadis berjilbab yang akan menikah itu.

Setelah beberapa saat, Toni melepaskan jarinya, dia juga melepaskan genggaman tangan Novi dari penisnya. Novi menatap penis Toni yg berjongkok di depannya..

Baru sekali ini ia melihat penis lelaki dewasa langsung di hadapannya. Toni yg melihat gadis itu menatap penisnya, mulai meraih kembali tangan gadis itu. Novi kembali meraih penis Toni yg sudah mulai mengeras.

“Coba dicium Nov, pasti km suka” katanya pelan, stengah berbisik.
Novi menatap penis itu. Ragu karena dia memang belum pernah melakukannya. Di dorong oleh gairahnya, dia mulai mencium penis itu, dikecupnya penis Toni. Toni tak diam, dielus nya kepala Novi yg masih terbungkus jilbab besarnya.
Mullutnya mulai mendesis ketika Novi mulai mengulum penisnya yg terasa semakin mengeras.
akhirnya, ia tak bisa menahan gairahnya… Toni akhirnya merebahkan tubuh Novi di lantai, lalu ia merebahkan tubuhnya ke arah yg berlawanan, ia membentuk posisi 69 yg biasa di lihat di video porno yg sering dilihatnya.

Novi kembali menjamah penis yg sekarang ada di depan bibirnya tersebut, Toni pun mulai memasukkan kembali jemarinya ke dalam vagina Novi. Dia jg menciumi vagina tersebut, memainkan lidahnya di klitoris gadis itu sambil jarinya tak berhenti bergerak keluar masuk vagina yg semakin basah itu.

“arrrrghhh… nikmat bgt Nov, arghhh …
Toni semakin bersemangat menjilati vagina Novi, jarinya semakin cepat bergerak.

“Arghh Ton… ” Novi terus mendesis di sela kulumannya pada penis Toni.

Mereka terus saling menghisap dan mempermainkan kelamin pasangannya beberapa saat.
Tak sanggup menahan perasaan yg semakin membuncah, Toni kembali merubah posisinya.
kini dia berjongkok di depan paha Novi yg masih berbaring. perlahan dia mengarahkan penisnya ke arah vagina Novi.

“Mauu aphaa km Tonn?” Tanya Novi terbata
Toni tak menjawab, dia membuka paha gadis tersebut, dan mulai mendekatkan penisnya…
Novi tak bisa mengelak,dia justru membuka pahanya lebih lebar… dan dia sedikit histeris ketika penis toni yg membesar itu mulai perlahan-lahan memasuki liang vaginanya.

“argghhhh …. pelan2 Ton, perih.”
“Iya Nov, tahan ya…” jawab Toni penuh perhatian..
dia terus berusaha memasukkan penis nya ke dalam vagina Novi.

arghhh … ssssshhhhh … memekk kamu rapat bgt Nov… aku suka …
pelan tapi pasti akhirnya penis toni berhasil masuk ke dalam vagina Novi.

“arghhh… Ton …” Novi mendesis menahan rasa nikmat yg tiada taranya itu. Tubuhnya bagai terbang ke awang2.
perlahan toni menggerakkan pinggulnya, menggerakkan penisnya maju mundur di dalam vagina yg semakin terasa becek itu.. semakin lama gerakannya semakin cepat.. membuat Novi semakin merasa terbang..
Novi pun akhirnya tak bisa diam, gairah menuntutnya untuk menggerakkan pinggulnya. Mengimbangi gerakan Toni yg terus menghajar vagina

Mereka saling mendesis merasakan kenikmatan,,,
“arghhh… enak Nov, nikmat bgt”
“Ton …. aku gak tahan” ceracau Novi sambil menggerakkan pinggulnya semakin cepat. dia benar2 telah kehilangan akalnya, dia hanya merasakan kenikmatan yg tiada tara saat itu…

Novi terus bergerak, tanganya mulai menekan pantat Toni, ia ingin penis pemuda itu masuk semakin ke dalam liang vaginanya.

“argghhh Tonnnnnn…. trusssss”
sampai akhirnya, Novi benar2 merasakan tubuhnya kejang, dia merasa ada yg meledak dalam tubuhnya. dia berusaha menahan gerak tubuh Toni,, tapi pemuda itu tidak berhennti dan malah semakin mempercepat gerakannya…

“Tonnnn…. argghhhhhh aku …….
“iya Novv…. argggghhh sabar, aku sudah mau,,,,,
“arghhhh…..”

akhirnya Toni merasakan ledakan itu, dia hempaskan tubuhnya ke atas tubuh gadis dibawahnya.

Novi memeluk pemuda itu erat. membiarkan penis yg masih berdenyut itu tetap berada dalam liang vaginanya…

akhwat itu sadar, ia telah khilangan keperawanan dan kehormatannya yg telah ia jaga selama ini.

hujan masih rintik2 diluar sana..
gerimis pun hadir di mata akhwat itu…
penyesalan atas apa yg telah ia lakukan beberapa menit lalu

——- end ——-Malam semakin larut, dingin, karena langit terus mencurahkan air matanya sejak sore tadi, ditambah lagi ruangan itu ac menyala sedari pagi. Novi melirik jam di ujung kanan tampilan monitornya, sudah jam 3 dinihari.
Novi mulai merasakan kantuk menyerangnya, matanya mulai berat, tapi mengingat kewajibannya, dia tetap berusaha untuk menahan rasa kantuk itu. Sudah beberapa hari ini dia bekerja di sebuah warnet milik sepupunya yang buka selama 24 jam. Dan malangnya, Novi harus menjaga warnet itu saat malam hari.
awalnya ia enggan, tapi setelah diyakinkan oleh sepupunya bahwa warnet itu aman di malam hari, maka akhirnya Novi terpaksa menurutinya. Mau gimana lagi, Anto -sepupunya itu- itu bekerja malam hari disebuah pabrik di daerah bekasi, dan baru bisa menggantikannya menjaga net itu sepulang kerja sampai tengah hari, sedangkan Dimas yg biasa shift malam di net itu sedang pulang ke kampung halamannya.
Malam itu cuma ada seorang pemuda yang sedang main di warnet itu, usianya kira2 sebaya dengan calon suaminya di kampung. Sejak sore pemuda itu sudah datang dan memang sejak awal Novi bekerja di net tersebut, pemuda itu memang selalu datang sore hari dan baru pulang saat azan subuh berkumandang.
Dia sempat berpikir tentang apa kerja pemuda tersebut, karena dalam benaknya, tidak mungkin pemuda itu bekerja di siang hari karena malam harinya dia selalu bergadang di net ini. Tapi dia sadar, inilah kota besar, pemudanya tidak seperti di kampungnya yang biasa berada di masjid saat malam tiba. Dia merasa beruntung karena calon suaminya adalah seorang aktifis dakwah, sama seperti dirinya.
“Mbak, teh botol 1 ya?” Suara itu mengagetkannya.
“Oh, iya Mas, silahkan.” Jawabnya
“Loh kuncinya mana Mba?”
“Oh, iya, ini Mas” Jawab Novi sambil menyerahkan kunci yang lupa diberikannya.
di Net tersebut, Lemari Es tempat penyimpanan minuman memang sengaja dikunci karena seringnya para user yg tidak bertanggung jawab mengambil minuman tanpa membayar saat sang operator sedang lengah.
Pikiran Novi kembali menerawang kepada sosok calon suaminya. Lelaki yg sebenarnya sudah lama dia kenal, tapi baru bisa dia dengar suaranya saat proses lamaran tepat 1 minggu sebelum Novi berangkat ke Jakarta untuk bekerja pada sepupunya pemilik warnet ini.
Dia sengaja bekerja di jakarta menjelang pernikahannya, Untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan, pikirnya.
Ya, dalam pikirannya,bisa saja mereka terjerumus di dalam dosa.. Wong yang mereka yg baru pacaran saja bisa melakukan hal2 nekad, apalagi dirinya yg sudah bertunangan. Walaupun dia yakin dia dan calon suaminya tak mungkin melakukan hal2 yg dilarang agama meskipun mereka sudah resmi bertunangan dan pelaksanaan akad nikahnya sendiri tinggal 2 minggu lagi. Intinya, 2 minggu itu masih mungkin terjadi hal2 yg tidak diinginkan olehnya.

“Tuh kan, bengong lagi, lagi mikirin apa seh, Mba?? tiba2 pemuda itu sudah berada di sampingnya lagi, dan lebih membuatnya kaget lagi.
“Eh, engga Mas, ada apa? Ada yg bisa saya bantu?” jawabnya tergagap
“Itu mba, tolong Share-in file yg ada di foldernya Dimas dong. Penting nih.”
“Oh iya, sebentar ya” Novi pun meraih Mouse dan mencari folder yg dimaksud, tapi entah karena apa, pemuda tersebut tiba2 berkata “eh, maaf Mba, biar saya aja deh yg cari, gak enak sama mba, mba kesana aja dulu sebentar.”
Novi jd bingung, dia pun melangkah sedikit menjauh, dalam hatinya, mungkin itu file rahasia yg tidak boleh dilihat oleh siapapun, kecuali oleh Dimas. Setelah beberapa saat, pemuda itu berdiri dan kembali mempersilahkan Novi duduk di bangku operator tersebut.
“Udah Mba, Makasih ya.”ucapnya sambil berlalu meninggalkan NOvi.

Novi kembali menatap jam di pojok kanan bawah monitor, hampir 1/2 4. berarti, 1 jam lagi sepupunya pulang, dan dia bisa istirahat setelah sholat subuh di rumah pamannya yg kira2 berjarak 100 meter dari net itu.
tiba2 dia teringat sesuatu, tadi sore, sebelum berangkat Anto sempat memintanya untuk memindahkan file2nya ke folder baru. Setelah membuat folder baru,dia mulai mencari file2 milik Anto yg ternyata bertebaran dimana-mana,tak terasa, saat azan subuh pekerjaan itu baru selesai, benar2 si Anto itu, brantakan sekali sih orangnya.. PIkirnya dalam hati.
Tak lama, Anto masuk ke net, dia masih keliatan segar meskipun baru pulang kerja.
“Gimana Nov? Rame Gak?? ” Tanyanya
“Cuma ada 1 orang, itu yg biasa main dari sore sampai pagi.”
“Oh si Toni ya?” Biasa dia mah. Ya udah km sana istirahat.”
“Iya, aku pulang dulu ya.. Novi pun mulai beranjak meninggalkan warnet menuju rumah sodaranya tersebut, keluarga saudaranya tersebut pasti belum pada bangun, yah mau gimana lg, dia hanya menumpang di rumah tersebut, mau bicara apa pun terasa tidak enak, untung saja dia diberi pegangan kunci cadangan, jd dia tak perlu membangunkan orang2 yg masih terlelap dalam tidurnya tersebut.

Esoknya

HUjan kembali turun sejak sore, dan kini ditambah dengan suara petir yg sesekali menggelagar di atas sana.
Lagi-lagi, sama seperti kemarin, cuma ada si pemuda yg bernama Toni di net itu.
Waktu menunjukkan pukul 1 dinihari ketika tiba2 saja listrik padam.
“Yah Mba, gimana neh??” Kata Toni setengah berteriak. Novi tidak menjawab apa2, dia sibuk mencari lilin untuk menerangi ruangan itu.
“Payah deh, lagi seru2nya pake mati lampu segala lagi,” kata Toni yg sudah berdiri tak jauh dari Novi.
“Ada lilin, MBa??
“Ada ini baru ketemu, ini saya lg cari koreknya”
“OH, ini aja, saya ada korek kok.”
sigap tangan Toni menyalakan korek dan mengarahkan apinya ke sumbu lilin yg disodorkan NOvi. Lalu lilin itu ditempatkan tak jauh dari meja server. Lumayan menerangi ruangan tersebut.
Toni meraih bangku yg ada disamping, lalu duduk disamping Novi.
Novi sempat merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, sebagai seorang akhwat – wanita yg aktif dalam kajian dan kegiatan dakwah – suasana seperti itu jelas sangat tidak berkenan dalam hatinya. Berdua2an dengan seorang pria yg tidak dikenalnya, dalam keadaan gelap dengan penerangan bermodalkan secercah cahaya lilin, wew, jelas sangat tidak nyaman baginya.
Tak sekalipun ia pernah mengalami saat2 seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksa, tak enak rasanya mengusir langganan yang setiap malam selalu datang ke warnet itu seperti Toni.
Mereka diam, tak ada hal yang bisa dibahas sebagai bahan pembicaraan.
setengah jam berlalu dalam keheningan, dan listrik belum juga menyala. Kehiningan berlalu saat Toni meminta kunci kulkas.
“Haus nih mba, aku ambil minum ya.”
untung saja Novi sudah hapal tempat kunci itu biasa diletakkan, tak lama, kunci itu sudah berada di tangan Toni. Toni bergegas mengambil minuman dan membuka tutup botolnya.
NOvi terperangah ketika Toni memberikannya sebotol teh bot**l kepadanya.
“Biar gak ngantuk,”Kata Toni singkat
“Oh, iya makasih mas, ntar biar saya bayar sendiri ya”
“Ah, jangan, biar saya aja. kan aku yg ambilin”
“Yah, terserahlah,” Akhirnya NOvi mengalah karena merasa tak enak hati.
dia tak langsung meminumnya karena TOni lebih dulu bertanya padanya.
“Katanya sebentar lagi mau nikah ya Mba?
“Iya Mas, kok tau? Dari Anto ya?
“Iya, tadi sore dia cerita. Tapi kok 2 minggu lagi nikah, mba malah ke jakarta n kerja disini?
“Ribet Mas ngejelasinnya. Intinya sih, saya mau nahan diri, itu aja.”
“Nahan diri? Nahan diri dari apaan? Tanya Toni
“Dari nafsu, saya ngga mau melakukan hal2 yg mengundang saya pada maksiat bersama tunangan saya.” Jawab Novi
“OH gitu toh, ic ic” Tony manggut2 seolah mengerti, padahal dia kurang paham apa yg dimaksud oleh NOvi.
“Di minum mba minumannya” kata Tony mempersilahkan Novi untuk meminum minuman yg telah dibelikannya.
merasa tak enak, Novi pun meminum teh pemberian Toni tersebut. Toni sendiri menatap sambil menyunggingkan senyum.
Tak lama setelah meminum minuman tersebut, kantuk yg sangat hebat tiba menyerang novi, kepalanya juga terasa sangat berat. Sempat di lihatnya jam yang baru menunjukkan pukul 2, setelah ia merasakan matanya tak sanggup lagi menahan rasa kantuk yg mendadak tiba tersebut.

NOvi terbangun saat dia merasakan ada sesuatu yg meraba payudaranya. dia seperti tersengat oleh listrik ribuan kilowatt saat dia melihat jubah yg ia kenakan telah terbuka kancing di bagian depannya, dan dia lebih terkaget2 lagi saat menyadari Toni sedang meraba payudaranya. Bra yg dikenakannya sdh tidak menutupi 2 bukit indah yg menjulang tersebut.
“Ngapain kamu, tolong hentikan, jgn macam2 kamu.” katanya sambil berusaha menepis tangan Toni yg sedang menggerayangi payudaranya. Tapi tangannya terasa sangat lemah, ia seperti tidak punya tenaga untuk mengangkat tangannya sekalipun.
Toni hanya diam, dia tak menjawab apa2. cuma Tangannya yg terus bergerak, meremas, dan sesekali menyentuh dengan lembut puting payudara Novi dengan jarinya.
Tak cuma itu, Toni pun mulai menciumi bukit indah itu, lidahnya mengulum dan menggigit kecil puting susu Novi yang masih berwarna pink tersebut. Toni tahu betul, puting susu seperti yang ada dihadapannya pasti belum pernah terjamah oleh lidah, bahkan oleh tangan lelaki lain.
Toni tak menghiraukan gadis yang terus berusaha meronta dengan tenaga nya yg lemah itu. Bahkan, tangannya pun mulai bergerak kebawah, menyelusup masuk ke dalam celana dalam Novi setelah ia membuka kancing rok yg dikenakan Novi.
Novi sedikit histeris ketika vaginanya disentuh oleh jemari toni, tapi suaranya jelas tak kan terdengar oleh siapa2, selain di luar sedang hujan, tak ada bangunan yg ada di dekat warnet itu, satu2nya bangunan terdekat adalah rumah Anto, tempat Novi menumpang, itu pun jaraknya lumayan jauh.
Toni mengusap gundukan bukit yg sedikit berbulu itu, disentuh nya dengan lembut bibir vagina tersebut sampai akhirnya Toni tak sabar dan segera melepaskan rok dan celana dalam yang membungkus bagian bawah tubuh Novi.
Novi terus berusaha berontak dengan tenaga lemahnya, rupanya, minuman yg diminumnya dicampur oleh obat bius oleh Toni, entah kapan Toni memasukkan obat bius tersebut.
Usaha berontak Novi jelas tidak berarti apa2 bagi Toni, yang ada Toni malah semakin liar menciumi payudaranya.. jarinya pun mulai berusaha untuk memasuki liang vagina Novi.
Novi menggigit bibirnya ketika dia merasakan jari tengah Toni perlahan mulai masuk ke dalam vaginanya..
Perih.. dan dia pun merasakan ada sesuatu yang mengalir dari dalam vaginanya..
“Oh, kamu masih perawan ya Nov??” tanya Toni setelah ia melihat apa yg membasahi jarinya..
bukannya Iba dan menghentikan perbuatannya Toni kembali memasukkan jarinya. dan mulai menggerakkannya keluar masuk secara perlahan-lahan, dia melakukannya dengan lembut sambil bibir dan lidah nya tak berhenti bermain di payudara gadis tersebut.
“argh …. tolong hentikan Ton.” kata Novi terbata-bata.
Nafasnya mulai memburu, tak dapat diingkari, meski perih, meski kehormatannya sedang direnggut oleh Toni, ada perasaan aneh yg menyelusup ke dalam sanubarinya.
Perasaan itu semakin menjadi2 saat jemari Toni semakin bergerak cepat di dalam vaginanya yg terasa semakin licin oleh Toni.
entah karena sebab apa, Novi mulai menghentikan usahanya untuk berontak, sebaliknya,dia malah menekan kepala Toni dengan sisa tenaganya… tentu saja hal tersebut semakin membuat Toni terbenam dalam bukit payudaranya, ciuman dan kuluman Toni pun semakin menggila, Toni terus menjilati puting yang indah tersebut.
“Arghhhhh….. Ton….ARghhhh”
“Tolong hentikan Toooonnn…”
“Memek km rapat bgt Nov, aku suka, aku juga suka sama puting susu km..” Jawab Toni sambil tangannya terus mengocok vagina Novi.
Tubuh Novi seakan mengejang, dirasakannya gerakan Toni menimbulkan perasaan yang sangat berbeda olehnya..
Rasa sakit yg tadi menderanya seakan telah hilang, digantikan oleh suatu rasa yg belum pernah ia rasakan sama sekali sebelumnya.
“Argh argh ……” Nafas Novi semakin memburu, dia sudah tak dapat lagi berkata apa2…
“ssssssshhhh …. arghhhh.” Novi mulai mendesis, gairah mulai merasuki perasaannya.

Toni sendiri menjadi semakin menjadi, di ambilnya tangan Novi dan dituntunnya tangan lembut tersebut ke arah penisnya. Karena mulai dikuasai oleh gairah yg memuncak, tak sadar Novi menuruti pemuda itu, dielusnya penis Toni yg masih terbungkus celana jins. Tak sadar pula ia mulai membuka resleting celana tersebut dan menyelusupkan jemarinya ke dalam celana dalam Toni.
Tubuh nya terus terasa kejang akibat gerakan jari Toni di dalam vaginanya, gerakan Jemari toni pun semakin cepat, tak sabar, ia menuntun tangan gadis itu untuk menyentuh penisnya.
“Pegang seperti ini Nov,” Katanya sambil membimbing tangan gadis itu untuk menggenggam penisnya..
“Ya Seperti itu. Arghhh…” Toni berkata sambil merasakan nikmat ketika Novi mulai menggenggam penisnya.
Novi benar2 telah bergerak berdasarkan instingnya, perlahan dia mulai menggerakkan genggamannya, dia gerakkan penis Toni, diputarnya dengan bergairah.
“Arghhh Ton,,, Ton..” Novi meracau dengan desahan nafasnya yg semakin tak beraturan..
dia benar2 merasakan kenikmatan dari gerakan jari Toni yg keluar masuk vaginanya yg semakin basah. sesekali Toni menciumi payudara gadis itu.
Mereka terus bercumbu di tengah temaram lilin, suara rintik hujan semakin membuat Toni bergairah mencumbui gadis berjilbab yang akan menikah itu.

Setelah beberapa saat, Toni melepaskan jarinya, dia juga melepaskan genggaman tangan Novi dari penisnya. Novi menatap penis Toni yg berjongkok di depannya..

Baru sekali ini ia melihat penis lelaki dewasa langsung di hadapannya. Toni yg melihat gadis itu menatap penisnya, mulai meraih kembali tangan gadis itu. Novi kembali meraih penis Toni yg sudah mulai mengeras.

“Coba dicium Nov, pasti km suka” katanya pelan, stengah berbisik.
Novi menatap penis itu. Ragu karena dia memang belum pernah melakukannya. Di dorong oleh gairahnya, dia mulai mencium penis itu, dikecupnya penis Toni. Toni tak diam, dielus nya kepala Novi yg masih terbungkus jilbab besarnya.
Mullutnya mulai mendesis ketika Novi mulai mengulum penisnya yg terasa semakin mengeras.
akhirnya, ia tak bisa menahan gairahnya… Toni akhirnya merebahkan tubuh Novi di lantai, lalu ia merebahkan tubuhnya ke arah yg berlawanan, ia membentuk posisi 69 yg biasa di lihat di video porno yg sering dilihatnya.

Novi kembali menjamah penis yg sekarang ada di depan bibirnya tersebut, Toni pun mulai memasukkan kembali jemarinya ke dalam vagina Novi. Dia jg menciumi vagina tersebut, memainkan lidahnya di klitoris gadis itu sambil jarinya tak berhenti bergerak keluar masuk vagina yg semakin basah itu.

“arrrrghhh… nikmat bgt Nov, arghhh …
Toni semakin bersemangat menjilati vagina Novi, jarinya semakin cepat bergerak.

“Arghh Ton… ” Novi terus mendesis di sela kulumannya pada penis Toni.

Mereka terus saling menghisap dan mempermainkan kelamin pasangannya beberapa saat.
Tak sanggup menahan perasaan yg semakin membuncah, Toni kembali merubah posisinya.
kini dia berjongkok di depan paha Novi yg masih berbaring. perlahan dia mengarahkan penisnya ke arah vagina Novi.

“Mauu aphaa km Tonn?” Tanya Novi terbata
Toni tak menjawab, dia membuka paha gadis tersebut, dan mulai mendekatkan penisnya…
Novi tak bisa mengelak,dia justru membuka pahanya lebih lebar… dan dia sedikit histeris ketika penis toni yg membesar itu mulai perlahan-lahan memasuki liang vaginanya.

“argghhhh …. pelan2 Ton, perih.”
“Iya Nov, tahan ya…” jawab Toni penuh perhatian..
dia terus berusaha memasukkan penis nya ke dalam vagina Novi.

arghhh … ssssshhhhh … memekk kamu rapat bgt Nov… aku suka …
pelan tapi pasti akhirnya penis toni berhasil masuk ke dalam vagina Novi.

“arghhh… Ton …” Novi mendesis menahan rasa nikmat yg tiada taranya itu. Tubuhnya bagai terbang ke awang2.
perlahan toni menggerakkan pinggulnya, menggerakkan penisnya maju mundur di dalam vagina yg semakin terasa becek itu.. semakin lama gerakannya semakin cepat.. membuat Novi semakin merasa terbang..
Novi pun akhirnya tak bisa diam, gairah menuntutnya untuk menggerakkan pinggulnya. Mengimbangi gerakan Toni yg terus menghajar vagina

Mereka saling mendesis merasakan kenikmatan,,,
“arghhh… enak Nov, nikmat bgt”
“Ton …. aku gak tahan” ceracau Novi sambil menggerakkan pinggulnya semakin cepat. dia benar2 telah kehilangan akalnya, dia hanya merasakan kenikmatan yg tiada tara saat itu…

Novi terus bergerak, tanganya mulai menekan pantat Toni, ia ingin penis pemuda itu masuk semakin ke dalam liang vaginanya.

“argghhh Tonnnnnn…. trusssss”
sampai akhirnya, Novi benar2 merasakan tubuhnya kejang, dia merasa ada yg meledak dalam tubuhnya. dia berusaha menahan gerak tubuh Toni,, tapi pemuda itu tidak berhennti dan malah semakin mempercepat gerakannya…

“Tonnnn…. argghhhhhh aku …….
“iya Novv…. argggghhh sabar, aku sudah mau,,,,,
“arghhhh…..”

akhirnya Toni merasakan ledakan itu, dia hempaskan tubuhnya ke atas tubuh gadis dibawahnya.

Novi memeluk pemuda itu erat. membiarkan penis yg masih berdenyut itu tetap berada dalam liang vaginanya…

akhwat itu sadar, ia telah khilangan keperawanan dan kehormatannya yg telah ia jaga selama ini.

hujan masih rintik2 diluar sana..
gerimis pun hadir di mata akhwat itu…
penyesalan atas apa yg telah ia lakukan beberapa menit lalu

——- end ——-

MAMI TOUR


By Jakongsu

Rencanaku mau berkeliling Eropa pada musim panas tahun ini jadi berubah total. Aku semula hanya berencana akan tour ke Eropa sendirian, tetapi ketika aku bercerita bahwa pada Bulan Juli nanti aku akan cuti sekitar 2 minggu, mereka mencecarku aku bakal pergi kemana.
Tanpa berharap apa-apa aku dengan polosnya bercerita akan keliling Eropa. Aku belum pernah ke Negara-negara di Eropa, tetapi dari cerita dan informasi yang kuketahui, banyak tempat menarik di sana.
Jika anda sebelumnya membaca rangkaian ceritaku berjudul “HAREM”, maka pasti paham bahwa aku bekerja sebagai therapis melalui cara refleksi dan hipnotis. Pasienku banyak terutama setelah aku berhasil mengurangi bobot tubuh mereka yang tambun. Aku sempat kewalahan melayani panggilan, sehingga untuk membatasi permintaan atau order, aku minta managerku Bu Rini untuk menaikkan biaya terapi. Namun setelah harga dinaikkan sampai tergolong mahal, permintaan terapi tidak berhenti. Cerita mengenai itu sudah saya uraikan di dalam cerita HAREM 10.
Kembali ke soal rencanaku akan keliling Eropa , ada sekitar 8 orang yang menyatakan berminat. Mereka tertarik berpergian bersama ku, karena mereka sebenarnya adalah pasien-pasienku yang sudah fanatik. Jalan-jalan ke Eropa bagi mereka bukan hal baru. Mereka adalah ibu-ibu yang berlimpah harta, tetapi senang sekali berselingkuh dengan ku. Apa sebabnya mereka menyenangiku, mereka punya jawaban yang berbeda-beda. Soal itu aku tidak terlalu mau dipusingkan.
Pilihan waktu untuk perjalananku ke Eropa adalah musim panas bulan Juli. Pada musim panas, saya yang terbiasa hidup di alam tropis pasti tidak terlalu sulit menyesuaikan iklim. Lagi pula kalau di musim dingin pasti banyak keterbatasan, dan beban jadi berat. Sebab harus bawa baju tebal, over coat ah banyaklah. Kalau musim panas kan bisa cuma pakai Tshirt.
Dari 8 ibu-ibu yang semula menyatakan akan ikut, akhirnya hanya 5 yang kemudian memastikan ikut. Mereka sangat antusias, dan kelihatannya masing-masing punya alasan untuk ikut bersamaku. Kelima ibu-ibu itu kebetulan sudah saling kenal, jadi aku agak ringan juga. Kalau tidak nanti bakal jadi kerjaan untuk mengakurkan antar sesama mereka.
Mereka berpamitan kepada suami mau tour ibu-ibu ke Eropa. Pastinya mereka menyembunyikan kesertaanku. Mauku memang begitu.
Mereka semuanya dari kalangan the haves. Aku yang semula mau back peckers berubah jadi 1st class tour. Mereka bersikeras harus naik pesawat “ SA” dan kelas satu pula. Hotel-hotelnya juga maunya bintang 5. Aku tidak bisa menolak kemauan itu, sebab mereka pula yang membayar semua biaya ku. Akhirnya jadwal yang tadinya sudah tersusun rapi dan sebagian malah sudah book, jadi berantakan. Aku perlu 1 minggu untuk mengatur kembali jadwal dan hotel. Bagaimana aku tidak pening, mereka minta harus kamar suite dan kamar yang berdampingan, atau minimal satu lantai. Booking hotel yang begini maunya rada susah dan makan waktu. Tapi akhirnya semua teratasi dan penggetahuan ku jadi makin mantap soal mengatur perjalanan.
Tujuan kami yang pertama adalah Amsterdam Belanda. Penerbangan dari Jakarta singgah dulu ke Singapura, lalu langsung ke Amsterdam. Sampai di sana pagi hari. Di Airport aku harus mencari limosin dengan 6 seat. Kami langsung menuju hotel yang kupilih di downtown. Karena aku tidak pernah ke Amsterdam, maka pemilihan hotel ya berdasarkan common sense aja.
Di Amsterdam jadwalnya 3 hari 2 malam. Kami mendapat 2 kamar suite yang besar dan masing-masing kamar ditambah 1 ekstra bed. Sebenarnya untuk aku tidak perlu ekstra bed, karena sofa di kamar bisa diubah menjadi bed juga. Namun karena kami chek in berenam, maka front Office mengatur ada ekstra bed di tiap kamar.
Baru juga masuk kamar, ibu-ibu sudah sibuk mau jalan-jalan ke departement store. Aku minta mereka bersabar untuk istirahat dulu sekitar 2 jam. Sebab badan dari daerah tropis harus disesuaikan dulu dengan iklim Eropa. Aku juga perlu waktu untuk mempelajari kota ini, agar ibu-ibu rombonganku nanti bisa toru dengan waktu yang efisien.
Aku sekamar dengan Bu Dina dan Bu Veni. Di kamar lain bergabung Bu Henny, Bu Vence dan Bu Shinta. Kamar yang kami tempati sangat mewah dan luas, ada ruang tamu dan ada kamar tidur. Interiornya bergaya klasik
Sejak dari airport sampai waktu chek in aku rajin mengumpulkan brosur-brosur mengenai Amsterdam dan Belanda. Aku sendiri sudah punya catatan tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tapi dasar ibu-ibu tidak ada tempat yang menarik selain tempat belanja .
Aku mengambil kesempatan pertama untuk membersihkan diri dan bab. Dari berangkat aku belum sempat buang hajat. Aku juga paham kalau aku menunggu mereka mandi, pasti lama Setelah badan segar aku turun ke lobby untuk memesan MPV, bagi mengangkut rombongan.
Sisa waktu pada hari pertama kami dihabiskan untuk mengunjungi beberapa tempat-tempat belanja. Kebetulan Bu Vence sudah beberapa kali ke Amsterdam, jadi dia tahu tempat-tempatnya.
Kami kembali ke kamar sekitar jam 9 malam. Badan sudah lelah sekali rasanya. Jetlag dan lelah dari city tour tadi bertumpuk. Aku segera membersihkan diri dan langsung berusaha tidur secepatnya. Sementara itu para mami-mami sedang heboh dengan barang yang mereka beli tadi. Suara kresek-kresek dari bungkusan rasanya nggak ada habis-habisnya. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur dan terbangun karena merasa suara di kamar ini makin ramai. Rupanya Bu Shinta, Hu Henny dan Bu Vence ada di kamar ini. Pantas kayak pasar, ramainya.
Aku hanya bisa memandangi mereka sambil memainkan remote TV berganti-ganti chanel. Acaranya kebanyakan pakai bahasa Belanda. Melihat pay TV juga bosan, karena film XXX gitu-gitu juga, dan banyak di Jakarta. Akhirnya aku nonton discovery .
“Jay malam ini ada acara nggak,” tanya Bu Shinta.
Aku jawab malam ini acaranya istirahat. Akhirnya mereka kembali ke kamar. Bu Dina sudah masuk kamar mandi, Bu Veni masih beres-beres. Mereka berdua sohiban, jadi tidak mau dipisah.
Aku sempat tidur 3 jam dan badanku sudah terasa segar, tapi perut jadi lapar. Jam di meja kulihat sudah menunjukan jam 12 malam, kalau di Jakarta mungkin masih jam 5 sore. Jam tubuhku menuntut makan malam, padahal tadi sudah makan sebelum kembali ke hotel.
Aku melihat menu di lembar room service, yang menarik hanya steak. Rasa hanya itu saja yang aku mengerti, lainnya nggak jelas. Bu Veny kutawari makan dia hanya mau kentang goreng dan Bu Dina minta sandwich.
Pesanan kami datang dan dengan sigap Bu Dina yang baru selesai mandi langsung mengambil bill dan ditandatanganinya serta tak lupa menyelipkan tips 5 euro. Waiternya manggut-manggut lalu berucap terima kasih. Eh dia ngerti bahasa Indonesia rupanya.
Perut kenyang, badan sudah segar dan mau tidur lagi belum ngantuk. Aku kembali terbenam menyaksikan acara televisi. Kali ini aku menyaksikan saluran HBO dan filmnya cukup bagus. Bu Dina yang duduk menemaniku di ruang tamu tidak bertahan lama, matanya mulai berat dan akhirnya dia beranjak ke tempat tidur. Bu Veny yang baru selesai mandi menemaniku sambil mengunyah kentang goreng. Aku menikmati bir dari mini bar.
Sofa tempat kami menonton TV kemudian aku ubah menjadi bed dan kami berdua menonton sambil tiduran. “ Kamu pijetin aku dong Jay, kamu kan udah tidur tadi ya, “ kata dia.
Bu Veny lalu telungkup dan aku memulai ritual pijatan. Badan Bu Veny masih kencang meski usianya sudah menjelang 40. Dia termasuk pasienku yang berhasil menurunkan berat sekitar 15 kg. Kami sudah sering berhubungan badan, jadi tidak ada rasa sungkan lagi. Dia bahkan kalau lagi horny sering nelpon aku hanya untuk dipuaskan. Malam itu dia rupanya jadi horny setelah setengah jam dipijat. “ Pijatnya udahan ah sekarang service aja,” katanya sambil menarik dan memelukku.
Aku segera tanggap. Aku memulai ritual mencumbu Bu Venny. Dengan sentuhan halus dan gerakan yang halus aku menciumi seluruh tubuhnya sampai seluruh bajunya terkupas. Ruang tamu sejak tadi sudah diredupkan, TV sudah mati. Babak pertama adalah oral. Bu Venny termasuk paling suka aku oral. Kata dia oralku halus . Sekitar 30 menit aku gunakan untuk mengoralnya di mencapai O dua kali. Tapi rupanya itu tidak cukup karena dia minta aku menyebadaninya juga. Kemauannya mana mungkin aku tolak, karena selain senjataku sudah siap dari tadi, dia juga termasuk yang membayari aku untuk perjalanan ini. Aku tau kelemahan Bu Venny adalah pada posisi dog style. Sementara aku pada posisi itu agak kurang suka karena vagina rasanya kurang menjepit. Aku langsung mengatur posisi perempuan nungging. Dengan gerakan ganas aku pompa lubang vagina Bu Venny. Entah kenapa dia bisa langsung on dan mendengus-dengus kayak lembu . Aku memang berusaha menghunjam ke arah dinding dimana terletak Gspot.. Baru 10 menit Dia langsung ambruk karena Orgasmenya, yang kata dia enaknya sampai ke awang-awang. Karena lagi nungging meski dia jatuh tengkurap aku masih meneruskan pemompaan . Kuatur agar kdua kakinya rapat sehingga memberi dampak penisku lebih terjepit. Rasanya jadi nikmat sehingga aku pun akhirnya meletus, tetapi ku semprotkan di luar. Masalahnya aku kasihan pada Bu Venny yang sudah lemas dan ngantuk berat harus bersusah-susah membersihkan V nya ke kamar mandi.
Sementara aku berasyik ria dengan Bu Venny Bu Dina sudah mendengkur. Aku kembali berpakaian dan mau start tidur, tetapi rasa ngantuk belum ada. Jadi melanjutkan nonton TV lagi. Badanku masih mengikuti jam Jakarta. Di Jakarta baru jam 9 malam, jadi memang jam segitu biasanya aku belum tidur.
Belum film yang aku tonton habis, Bu Dina sudah bangun. Dia tergopoh-gopoh menuju ke kamar mandi. Kebelet pipis rupanya. Sekembali dari kamar mandi dia menghampiri Venny. “ Lho anak ini kok tidur disini sih, “ kata bu Dina sambil membuka selimut. “Oh pantesan rupanya dia udah supper (makan besar) duluan ,” Bu Dina lalu menutup kembali selimut.
Dia lalu menyeretku masuk ke kamar. Diambilnya parfum, badanku di semprot dari atas ke bawah, depan belakang. Aku menduga dia mau menghilangkan aroma Venny dari tubuhku. Apa boleh buat. Dikupasnya bajuku satu persatu, sampai bugil. Batang penisku belum berdiri, tapi sudah mulai terisi. Dalam posisi aku berdiri di samping tempat tidur dan dia duduk penisku diciuminya. Untung tadi sudah kubersihkan dengan sabun. Jadi pasti baunya wangi.
Penisku diciuminya dan mulai dikulum-kulum. Diperlakukan begitu, penisku pelan-pelan mengembang di dalam mulut Bu Dina. Ibu yang satu ini suka sekali merangsang dirinya melalui merangsang lawan mainnya. Dia akan terangsang jika melihat lawan mainnya juga terangsang.
Mulanya dia mengulum pelan-pelan lalu sesekali menyedot. Selanjutnya dia menjilat-jilat buah zakarku dan kadang-kadang dicaploknya. Teganganku sudah bangun 100 persen. Melihat aku terangsang, Bu Dina makin giat mengulum bahkan terasa sekali dia sangat bernafsu. Aku mulai menurunkan dasternya dan meraba kedua dadanya yang montok. Bu Dina lalu membantuku sehingga di pun kini telanjang bulat. Aku diminta telentang lalu Bu Dina menciumi seluruh tubuhku. Aku menggeliat-geliat kegelian dan menahan rangsangan. Bu Dina jadi makin bersemangat. Dia rupanya sudah tidak tahan lagi lalu aku dikangkanginya. Bless batangku habis tertelan vagina Bu Dina. Dia lah yang mengendalikan permainan sampai akhirnya dia mencapai orgasme. Bu Dina jatuh telungkup di badanku sambil liang kemaluannya masih berkedut.
Aku ingin membalikkan posisi, tetapi ditahannya. Dia rupanya masih ingin di posisi ini menikmati sisa orgasmenya. Aku diam saja sambil mengelus-elus punggungnya. Setelah sekitar 10 menit panggul Bu Dina mulai bergerak naik turun. Mulanya bergerak pelan. Namun kemudian bergerak lebih cepat sampai kadang-kadang batangku terlepas. Dia memasukkan lagi dan kembali memompa. Tidak puas di posisi telungkup, Bu Dina bangkit lalu sambil duduk bersimpuh dia melakukan gerakan maju mundur. Aku berusaha menahan rangsangan dan dalam posisi WOT itu memang bisa kulakukan . Bu Dina mulai bersuara agak keras sampai akhirnya dia ambruk kembali menimpa badanku. Peluhnya membsahi seluruh tubuh. Dia rupanya sudah mencapai titik lelah tertingginya, sehingga ketika kubalik dia pasrah.
Bergantilah sekarang aku mengendalikan keadaan. Aku mulai memompa dengan gerakan konstan. Bu Dina sudah pasrah dan diam seperti batang pisang. Namun titik sesnsitifnya di dalam vagina kena gerus terus menerus akhirnya dia mengimbangi gerakanku. Kami orgasme hampir bersamaan. Aku lebih dulu beberapa detik. Sementara penisku berkonstraksi di dalam vaginanya dia kesetrum ikut juga berkedut dan bahkan dia histeris lalu memelukku erat sekali.
Setelah reda aku bangkit dan kekamar mandi dalam keadaan bugil sambil menenteng baju ku. Di kamar mandi aku membersihkan diri lalu berpakaian kembali. Handuk kecil yang ada di toilet aku basahi dengan air panas lalu kuperas sedikit. Sekujur badan Bu Dina aku seka untuk menhilangkan bekas keringat, aku balik untuk kedua kalinya dengan handuk panas dan kali ini khusus untuk membersihkan vagina Bu Dina yang meleleh. Aku bersihkan celah-celah vaginanya dengan handuk panas sampai tuntas dan bekas lelehan cairan bu Dina dan spermaku ku tutup dengan bedak talk .
Kami main di atas bed cover jadi sprei di tempat tidur masih tetap bersih. Bu Dina kagum dengan ketelatenanku. “ Jay sini “ panggil bu Dina yang sudah membujur dan kututupi selimut. Diciumnya kedua pipiku, “ Makasih ya Jay, kamu perhatian sekali,” katanya yang tidak lama kemudian sudah mulai mendengkur. Bu Dina tidur dalam keadaan telanjang.
Bu Venny yang masih tertidur di ruang tamu ku bangunkan lalu kubimbing untuk tidur di tempat tidur di samping Bu Dina. Dia masih ngantuk berat, sehingga tidak hirau ketika kubimbing dia dalam keadaan bugil. Kumasukkan dia kedalam selimut dan kucium pipinya kiri kanan. Wajahnya mengembang senyum tidak lama dia juga lelap.
Aku masih ingin menonton TV, maka aku tiduran di ruang tamu. Aku tidak sadar sampai akhirnya tidur sambil memegang remote.
Aku terbangun dan pikiranku masih agak bingung. “ Aku dimana ya sekarang,” ada sekitar 10 detik aku baru sadar. Sekarang ada di Amsterdam. Aku memimpin 5 ibu-ibu untuk tour ke Eropa. Aku menjadi leader, tetapi aku sendiri belum pernah ke Eropa. Sementara itu peserta tourku semuanya sudah pernah ke Eropa, terutama ke Belanda.
Jam menunjukkan 06 pagi. Hari ini acaranya akan berkeliling ke beberapa kota dan ada satu acara yang sudah kuatur untuk ibu-ibu adalah pertama mengunjungi Heineken. Lalu makan siang di restoran Indonesia.. Setelah itu mengunjungi pasar keju dan yang terakhir ada acara kejutan, yakni belajar masakan belanda di desa dekat kincir angin.
Aku segera bebenah dan membersihkan badan. Rasanya badanku tidak terlalu berkeringat, tapi kalau tidak mandi rasanya rada risih juga. Bu Dina dan Bu Venny masih tidur nyenyak. Selesai aku mandi dan rapi dengan kaos oblong dan jean aku kembali memeriksa jadwal dan peta Belanda.
Ada deringan telepon. Suara itu membangunkan kedua ibu. Aku segera mengangkat dan sudah menduga pasti dari kamar sebelah. Bu Henny menanyakan, jam berapa kita turun sarapan. Aku memastikan masih ada satu setengah jam lagi, Mereka juga tanya soal acara hari ini.
Bu Dina bangkit dari tempat tidur dan heran melihat diriku. “ Pagi-pagi gini kok sudah rapi rajin amat ,” katanya sambil mengucek-ngucek mata. Di lihatnya Bu Venny masih anteng tidur. “ Ayo bangun udah siang liat tuh si Jay udah rapi,” kata Bu Dina sambil menyingkap selimutnya. Semalam Bu Venny tidur telanjang, Bu Dina juga.
Bu Venny teriak kecil sambil tangannya menutup kedua payudaranya. Dia lalu berbalik dan berganti menarik selimut yang menutupi Bu Dina. Bu Dina yang sedang duduk di kasur tidak menyangka akan mendapat balasan secepat itu . “ Gila lu,” katanya menggerutu dan dia makin membuka selimut yang menutupi Bu Venny. Mereka akhirnya saling menelanjangi temannya.
“Ah nggak perlu malu, si Jay udah puas lihat kita telanjang, “ kata Bu Venny yang lalu duduk telanjang sambil bersila. Bu Dina akhirnya juga duduk bersila sambil tetap bugil. Kedua ibu-ibu itu susunya montok-montok meski agak turun sedikit. Tapi cukup okelah untuk wanita di umur 40-an.
“Apa acara kita hari ini Jay,” tanya Bu Dina.
Aku minta mereka sudah siap satu jam setengah lagi untuk bersama-sama turun ke bawah sarapan pagi. Bu Venny bergegas ke kamar mandi melenggang dengan tubuh bugilnya. Kelihatannya dia kebelet, nggak tahu kebelet pipis atau bab.
Aku turun ke lobby untuk memastikan pesanan mobil yang akan kami carter hari ini sudah konfirm. Di lobby aku juga menelepon calon guide yang aku kontak sejak masih di Jakarta. Dia adalah gadis Belanda yang mendalami bahasa Indonesia. Usianya tidak terpaut jauh dengan aku. Semua sudah konfirm dan Vony demikian nama guide gadis Belanda itu akan tiba di hotel kami pukul 9 pagi.
Aku tidak kembali ke kamar, tetapi ke kamar sebelah dimana 3 wanita STW menginap. Sebelum masuk kamar aku menelepon dulu dari lobby. Bu Shinta rupanya yang mengangkat. Dia ternyata sudah siap dan rapi, tapi Bu Henny dan Bu Vence sedang membenahi barangnya mereka belum mandi dan hanya pakai celdam saja. Bu Shinta mengangkat telepon ku di kamar mandi, jadi pembicaraannya tidak didengar teman sekamarnya. Aku minta dia membuka pintu kamarnya dan biarkan sedikit terbuka, aku akan masuk tiba-tiba. Tidak sampai 5 menit aku sudah di depan kamar mereka. Dengan gerakan mengendap aku masuk dan langsung menuju kamar tidur. Bu Vence dan Bu Henny berteriak kaget sambil menutup buah dadanya.
Gerakan reflek seorang wanita setengah telanjang. Setelah mereka tahu bahwa tamunya adalah aku mereka lalu menggerutu “ sialan, gue kirain room boy, “ kata Bu Vence.
“Iya nih pagi-pagi udah bikin jantung orang deg-degan,” kata Bu Henny.
Bu Shinta yang berdiri di belakang ku tertawa geli sambil menutup mulut. “ Ini idenya Jay lho jangan nyalahin gue,” kata Bu Shinta.
Mereka lalu kembali biasa lagi membiarkan buah dadanya bergelantungan. Mereka sadar bahwa aku sudah sering melihat mereka telanjang dan bahkan sudah lebih dari itu.
Bu Henny mengemasi baju yang akan dipakainya lalu masukkamar mandi. Aku menunggu mereka sambil memainkan remote control TV. Rupanya sofa di kamar mereka tidak digelar menjadi bed. Aku duduk santai menyaksikan chanel-chanel siaran pagi.
Bu Shinta sibuk dengan belanjaannya kemarin dan mengepaknya ke dalam koper. Bu Vence masih mondar-mandir hanya dengan celdam. Nonton TV lama-lama aku ngantuk.
Kaget mendadak sontak karena ada yang duduk dipangkuanku. Ketika kulihat ada tetek di depanku dan itu adalah Bu Vence. “Jay sambil nunggu Bu Henny pijetin dong tetekku, kamu kalo mijet bagian ini paling jago,” katanya.
Permintaannya tidak bisa ku tolak. Acara nonton tv jadi terhalang oleh sepasang susu putih yang cukup menggelembung. “ Aduh Jay enak, jay, jilat juga dikit dong Jay. “
Bu Vence pagi-pagi gini sudah ingin dirangsang. Bu Shinta yang tadi sibuk berbenah sudah duduk di sebelahku. Mulanya dia berkomentar mencela Bu Vence, pagi-pagi udah on. Tapi Bu Vence tidak perduli malah menggeliat-geliat di pangkuanku.
Mungkin dia terangsang juga sehingga tangannya kemudian meremas-remas penisku dari luar. Tidak puas dari luar tanggannya dipaksakan menerobos celana ku dari atas. Penisku digenggamnya meski masih terhalang celana dalam. Dia lalu berusaha membuka celana ku sampai penisku bisa menikmati udara bebas. Penisku dikocok-kocok Bu Shinta. Aku jadi makin terangsang gara-gara kedua STW ini.
Aku lalu menawarkan kepada mereka berdua untuk sarapan O. Mereka tanya apa itu, Keduanya lalu ku gelandang ke ruang tidur dan Hu Shinta kuminta membuka kembali bajunya dan Bu Vence membuka celananya. Bu Vence aku oral dan ko colok jariku ke dalam vaginanya. Berhubung dia sudah mendapat foreplay lama maka cukup 2 menit sudah menggelepar nikmat. Bu Shinta kutarik celana dalamnya dan aku mulai mengoral. Baru aja mulai, masuk Bu Henny. “ Eh kalian apa-apan pagi-pagi udah pada begituan,” katanya sambil berjalan dengan hanya berbalut handuk.
Bu Shinta tidak perduli di malah mengerang-erang nikmat. Bu Henny sambil berdiri memperhatikan tingkah laku kami. Sedangkan Bu Vence tidur telentang seperti orang pingsan.. Bu Shinta agak lama , lebih lama dari Bu Vence baru dia menjerit karena orgasme.
“Ah sialah kalian gua jadi pengin juga, ayo sekarang giliran gua,” kata Bu Henny.
Bu Henny lalu mengambil posisi telentang di tempat tidur dan aku segera menggarap perlahan-lahan. Aku tidak memulai dari oral di vagina, tetapi menciumi dadanya, putingnya lalu turun ke selangkangannya. Setelah terasa ada cairan membasahi celah vagina bu Henny aku baru memulai ritual oral. Bu Henny sekarang mendesah-desah. Tapi karena aku melakukan oral yang maksimal terhadap titik didih bu Henny maka sekitar 5 menit dia sudah berteriak keenakan..
Selesai sudah 3 hamburger Big Mek aku lahap pagi ini. Cairan 3 wanita itu berselemak di sekitar mulutku. Aku bangkit dan merapikan pakaian lalu membersihkan diri ke kamar mandi. Sebelum aku meninggalkan kamar aku minta kepada mereka agar sudah turun kebawah untuk sarapan pagi sebelum jam 9. Aku minta bawa barang yang perlu dibawa, agar selesai sarapan tidak perlu naik ke kamar lagi.
Ketika aku masuk ke kamarku Bu Dina dan Bu Venny sudah rapi. Baru 1 hari barang belanjaannya sudah banyak. Aku kembali mengingatkan komitmen sebelum berangkat agar tidak membeli oleh-oleh dan belanja barang. Nanti akan kerepotan dan berat. Apalagi perjalanan masih jauh dan panjang.
Mereka akhirnya berjanji tidak akan belanja lagi kecuali yang akan mereka pakai. Tempat perbelanjaan di depan masih banyak dan makin menarik, seperti Paris, Madrid, Berlin dan masih banyak lagi.
Kami lalu berbarengan keluar kamar. Sambil menuju lift kami mampir di kamar sebelah dan setelah di ting tong penghuninya keluar dengan tampang seger-seger. Di lobby aku sudah ditunggu sih Vonny, wuihh cakep nih bule dan supir limosin. Vonny kuajak masuk coffe shop untuk sarapan. Dia nolak katanya sudah sarapan, tapi kemudian nurut juga ketika aku minta berkenalan dengan anggota rombongan.
“Buset dah si Jay katanya belum pernah ke Belanda, tapi pagi-pagi gini udah disamperin cewe Belanda, mana cakep lagi,” goda Bu Henny.
Aku perkenalkan satu persatu anggota rombongan dan kepada anggota rombongan aku jelaskan bahwa Vonny adalah pemandu yang akan menjadi penerjemah sekaligus guide.
Selesai makan pagi sudah hampir jam 10 kami berangkat dengan mobil berkapasitas 8 orang. Woiih mercy lagi, aku kagum . Sopirnya belanda totok, Vony duduk di belakang bersama ibu-ibu dan aku duduk di depan mendampingi Sopir.
Dengan lagak bahasa Belanda aku tegur supir, bunyinya aja deh ya “ guye morgen,” di sambut juga dengan bahasa belanda selamat pagi. “ Hu hate met yo,” di jawab gud,” Lalu dia tanya aku apa bisa bahasa belanda “ Mbeitje” . Ya sedikit aja yang ku tahu.
Teguran ini hanya untuk mencairkan suasana agar tidak kaku dengan pak Sopir. Di belakang si bule Vony sedang diinterview sama mak-mak, sampai dia bingung mau jawab, abis semua pada nanya.
Kami mengunjungi museum Heineken, pabrik bir yang punya museum. Aku di sana puas juga menenggak bir. Dari sana kami ke sex museum. Wah ibu ibu pada cekikikan melihat berbagai alat peraga. Kalau mereka pergi ama suami dan pasti ada anak-anak mana mungkin kunjungan ke tempat ginian..
Perut sudah mulai keroncongan, aku minta pak Sopir untuk menuju salah satu restoran Indonesia di Amsterdam. Untungnya waiternya banyak orang Indonesia, jadi komunkiasi gak ribet. ‘’ Eh lha kok ada gado-gado, “ kata Bu Shinta.
Setelah kenyang aku minta pak Sopir mengarahkan kendaraan agak keluar kota menuju pasar Keju . Disana berbagai macam keju di jajakan. Ibu-ibu sudah histeris ingin membeli bermacam-macam keju, tapi kuingatkan bahwa perjalanan masih panjang. Mereka akhirnya membeli ala kadarnya untuk sekedar icip-icip.
Ada satu desa apa namanya ya aku lupa, Aku sudah janjian di sana ada acara belajar memasak masakan Belanda. Pemandangan luar kota yang menawan dengan kincir angin. Sebuah rumah yang kami tuju kebetulan dekat pula dengan kincir.
Kami disambut dan rombongan di bawa ke bagian belakang bangunan. Di sana rupanya sudah disiapkan berbagai bahan makanan dan bahan kue. Pemiliknya ibu-ibu gendut Belanda totok, tapi masih bisa bahasa Inggris. Di sinilah Vony berperan, Ia menterjemahkan penjelasan mengenai resep dan cara memasak . Sementara mereka sibuk dan asyik aku pinjam sepeda dan berkeliling desa dengan sepeda.
Dua jam lebih mereka asyik dengan berbagai resep makanan dan kue. Sementara si Vonny bukan hanya sibuk menterjemahkan, tetapi juga repot menulis resep yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Wajah puas terlihat dari air muka anggota rombonganku. Mereka memuji acara yang aku susun hari ini. Aku katanya berbakat jadi tour leader. Beberapa dari mereka meski sering ke belanda, tetapi fokus perhatiannya hanya belanja dan tempat tempat yang umumnya dikunjungi turis. Sedang acara yang aku susun sebisa mungkin mereka bisa merasakan kehidupan Belanda. Nanti kalau kembali lagi dari tour sebelum bertolak kembali ketanah air bakal ada acara yang heboh dan gak mungkin mereka mendapatkannya tanpa bersamaku. Aku akan menulisnya pada episode berikutnya.
Setelah kembali ke hotel, anggota rombonganku menyarankan agar Vonny di ajak saja keliling Eropa, dia orangnya baik dan smart. Aku lalu mengatakan bahwa masih ada vonny vonny lain yang menunggu di masing-masing negara, tenang aja.
Setelah mandi dan badan segar lagi, ibu-ibu menanyakan apa acara malam ini. Aku jelaskan bahwa malam ini kita perlu cepat tidur, sebab besok pagi sekali harus sudah berada di stasiun kereta untuk menuju Brusel. Kami makan malam di restoran di hotel yang ternyata menghidangkan menu prasmanan dari berbagai selera, dari mulai oriental sampai Eropa.
Jam 9 kami sudah kembali ke kamar masing-masing. Matku masih segar belum mengantuk, Bu Henny dan Bu Venny juga begitu. Dia hanya berganti baju tidur, sedang aku memakai celana pendek dan kaus oblong. Bel kamar berbunyi dan aku buru-buru membukakan pintu. Ternyta 3 ibu-ibu tadi langsung menyerbu masuk kamar. Suasana jadi seperti pasar, semua berceloteh. “ Eh di Amsterdam ini tontonan life shownya katanya bagus lho, apa kita nggak nonton, “ tanya Bu Shinta.
Aku menjelaskan daerah lampu merah tempat pertunjukan itu agak rawan. Aku khawatir kalau kita kesana malah diperas. Mereka akhirnya paham, mengapa aku tidak mengacarakan melihat live show.
“ Udahlah dari pada nonton live show di luar, di sini aja kita buat live show,” kata Bu Vence. Ibu ibu tidak mengerti aku juga nggak paham.
“Gini kita buat acara live show, si Jay pemainnya dengan salah satu dari kita,” kata Bu Vence.
Tak kusangka semua emak-emak itu malah antusias dan setuju dengan gagasan bu Vence. Aku lalu berpikir bagaimana cara memilihnya. Tiba –tiba masuk ide buat arisan. Maksudnya aku membuat gulungan kertas dan di dalam kertas itu aku tulis no urut 1 sampai 5. Siapa yang dapat no 1 dialah yang akan menjadi pasanganku pertama. Ok semua setuju dan mulai lah dikocok.
Pemegang No 1 ternyata Bu Henny. Dia tersipu-sipu malu. Yang lainnya bertepuk tangan. Aku lalu mengatur pentas yaitu sofa bed dan di sekiliingnya ku gelar bed cover sehingga ibu bisa nonton sambil lesehan di bawah.
Lagu dari saluran hotel dikeraskan volumenya.Aku memilih lagu klasik. Sebelum aku memulai pertunjukan aku meminta suasan yang seimbang. Semua penonton kuminta juga telanjang. Semua setuju lalu buka baju. Jadilah kami bereman bugil. Aku berbisik kepda Bu Henny, agar dia pura-pura mendesah dan agak mengeraskan suaranya. Ini maksdunya untuk membuat para penonton iri dan mudah-mudahan mereka akan tersiksa karena terangsang. Bu Henny setuju dan mengangguk.
Aku masuk ke kamar mandi dan menyabuni kemaluanku sampai wangi, Bu Henny juga melakukan hal yang sama. Kami keluar dari kamar mandi bergandengan dengan telanjang.
Kami duduk di tepi sofa bed lalu aku mulai mencium bibir bu Henny dari posisi duduk akhirnya Bu Henny menarik tubuhku sampai aku menindih badannya. Aku entah berbakat, atauentah karena dorongan ingin mengiming-imingi penonton bisa berlagak main dengan hot.
Bu Henny yang aku ciumi kedua putingnya mulai menggeliat-geliat sambil mendesis dan mengerang. Saranku diikutinya. Dengan gerakan lambat mengikuti irama lagu klasik aku mulai menciumi kemaluannya. Bu Henny makin mengerang keras. Dia ternyata berbakat pula. Aku memutar posisi sehingga kami jadi 69. Bu Henny melumat batangku sambil bersuara seperti menyedot kuah di sendok, atau seperti orang kepedasan.
Para penonton aku lirik mulai terpaku dan semuanya diam. Sambil aku mengoral Bu Henny jariku masuk ke dalam vaginanya . Kami main hampir 30 menit lalu Bu Henny berteriak dengan irama yang sangat merangsang. Dia benar-benar mencapai orgasme. Aku mengubah posisi Bu Henny agar kami bisa bermain dog style, lalu beganti posisi WOT, berubah lagi Bu Henny duduk di pangkuan ku . Kami bermain sampai sekitar 10 posisi kamasutra. Kulirik ibu-ibu penonton mulai gelisah. Kembali ke posisi MOT aku menggnjot keras sambil bersuara dan Bu Henny juga melenguh aku hampir mencapai tapi udah keburu di dahuli bu Henny di mengerang panjang sekali dan aku terpaksa berhenti sejenak. Setelah O nya reda aku kembali menggenjot dengan kasar dan ketika akan ejakulasi kutarik batangku dan ku lepas di atas perut Bu Henny.
Semua penonton tepuk tangan. Padahal sebelumnya aku melirik mereka menekan-nekan susunya dan tangannya menangkup dikemaluan. Horny juga para penonton rupanya.
“Wah sialan shownya merangsang bener,”
“Iya nih gua sampai becek,”
Aku bangkit ke kamar mandi dan membersihkan batangku dengan sabun dan menyirami tubuhku dengan cologne.
Aku kembali dengan batang yang gontai lemas tergantung. Aku lalu menanyanyakan apa show mau dilanjutkan.
“Emang situ masih kuat, “tanya bu Shinta.
“Kita lihat aja nanti, saya siap menghadapi 5 musuh sekalian, “kataku sumbar.
“Lanjut,” kata Bu Dina.
Aku lalu menanyakan siapa yang tadi dapat gulungan no 2.
Ternyata Bu Vence.
Dia kupersilahkan naik ke panggung dan kuminta mengoralku agar penisku bangkit. Dia menurut, karena dia rupanya sudah terangsang berat. Ini terasa dari gerakannya mengorlaku dengan semangat. Batangku yang sedang loyo, di sedotnya kuat-kuat seperti menyedot darah dari tubuh lain agar berkumpul ke penis.
Aku mulai berakting mengerang-erang. “ Ayo Ven sikat terus, “ kata Bu Shinta.
Barangku pelan-pelan mulai bangun sampai akhirnya keras cukup sempurna. Aku merasa tidak perlu mengoral Bu Vence. Aku langsung memeluk dia dan mengatur agar dia berada di atas duduk besimpuh. Gerakannya nggak kareuan karena dia juga mengernang sambil meremas sendiri susunya. Permainan dengan Bu Vence cukup 10 menit dia sudah game dan ambruk.
Aku merasa ejakulasiku masih lama. Aku lupa menjelaskan sebelum ini bahwa selain aku makin mahir melakukan terapi frefleksi dan hipnoterapi, aku juga mendalami latihan pernafasan. Olah nafas ini sangat membantu pengendalian diri, termasuk pengendalian ejakulasi.
Berikutnya No 3 adalah Bu Dina. Dia mengambil posisi rebah dan aku mulai merangkak diatas tubuhnya. Aku memulainya dengan menciumi kedua putingnya. Bu Dina yang susunya besar, mendesis-desis. Batang penisku yang dari tadi menunggu giliran segera kubenamkan ke tubuh bu Dina. Dia berteriak ketika batangku menguak rongga vaginanya. Dia berteriak bukan menunjukan rasa sakit, tetapi di berteriak karena enak.
Aku mulai menggenjot dengan gerakan lamban sambil mencari posisi yang paling dirasa enak oleh Bu Dina. Ketika aku baca responnya dia mendesis-desis maka aku berusaha bertahan pada posisi itu. Gerakan makin ku percepat dan sekitr 7 menit Bu Dina sudah menjerit orgasme.
Pemegang No 4 adalah Bu Venny. Dia langsung tidur telentang dan kedua kakinya ditekuk. Aku diminta mengoralnya dulu. Apa kata para tuan putri aku harus menurutinya. Aku segera mengoral. Clitorisnya sudah mengeras. Aku lalu memusatkan ke benjolan itu. Dia mengerang dan menggelinjang ketika lidah ku menyapu clitnya. Aku juga memasukkan jariku ke dalam sambil mengelus elus liang vaginanya. Belum ada 5 menit dan belum juga orgasme dia sudah menarik badanku ke atas agar aku menindihnya dan dia buruburu memasukkan batangku ke dalam vaginanya.
Begitu terbenam aku segera mengenjotnya. Dia mengerang berulang ulang dan tiba-tiba menarik pantatku kuat sekali lalu dia melenguh panjang. Beliau nyampe dan tepuk tangan kembali terdengar.
“Jay cuci dulu Jay,” kata Bu Shinta yang memegang undian no 5. Aku tidak membantah dan berjalan ke kamar mandi membersihan sekitar kemaluanku dengan sabun sampai dua kali dan badanku kembali kusiram cologne. Aroma segar memancar dari tubuhku sehingga semangatku bangkit kembali.
Bu Shinta memintaku tidur telentang dia akan melakukan woman domination. Dijilatinya kedua putingku lalu perutku lalu paha dan turun ke lutut. Lutut adalah kelemahanku. Aku merasa sangat kegelian jika lutut dijilati begini, aku menggelinjang kegelian. Dia makin bersemangat aku makin kegelian. Untunglah dia segera naik dan mengulum penisku. Aku mulai berakting dengan suara erangan. Hu Shinta makin semangat. Rupanaya dia jadi tambah on sehingga Dia segera mendudukiku dan batangku ditelan oleh vaginanya..
Bu Shinta bergerak liar maju mundur dan naik turun sambil mengerang-erang sendiri. Hampir 10 menit dia memacuku sampai akhirnya dia jatuh lemes telungkup menindihku. Vaginanya terasa berkedut berkali-kali.
Jika aku turuti nafsuku, aku ingin juga berejakulasi. Namun jika aku sampai ejakulasi, maka badanku akan lemas dan energi untuk menggembala ibu-ibu ini jadi lemah. Aku terpaksa menahan diri tidak mengejakulasi. Ilmu mengendalikan diri seperti ini memang paling berat diantara mengendalikan nafsu-nafsu lainnya. Namun karena tekadku keras akhirnya aku berhenti taanpa ejakulasi.
Semua ibu-ibu lawan mainku mengagumiku. Mereka mengelus-elus rambutku dan menyatakan salut atas keperkasaanku. Aku sebetulnya bukan perkasa. Aku berusaha tidak menikmati permainan ini dan larut dengan nafsu dan juga mengendalikan pernafasanku untuk menahan gejolak birahi yang terus mendongkrak-dongkrak.
Seluruh live show berakhir dalam waktu sekitar 2 jam. “ Wah ini pertunjukannya lebih hebat, kita pun bisa terlibat, gratis lagi,” kata Bu Shint yang sudah kembali berpakaian.
Mereka sudah kembali berpakaian sementara aku masih bugil dengan senjata terus menodong kemana-mana. Untuk menentramkannya aku masuk ke kamar mandi dan mandi dengan air dingin. irnya dingin sekali, sampai batngku jadi ciut pula.
Aku merasa segara dan ketika aku keluar dari kamar mandi kamar sudah temaram danibu-ibu dari kamar sebelah sudah kembali. Bu Dina memanggilku. Aku dimintanya tidur diantara dia dan Venny. Aku tak kuasa menolak.
Tapi sebelumnya aku harus telpon ke front office agar morning call jam 5 pagi. Ke kamar sebelah juga kuminta morning call jam 5 pagi. Sebab besok kami dijadwalkan berangkat dengan kereta api Thalys ke Brussel jam 7 pagi kurang 4 menit.
Aku jatuh tertidur lelap dipeluk dari kanan kiri oleh dua wanita yang mengagumiku.

*****

kerja kelompok yang nikmat

“Ryan,hari ini kita kerja kelompok di rumahku,ya?”Rena datang ke arahku
“Oke,deh,jam berapa?”Tanyaku disertai anggukan
“Hmmm,jam 1,deh,kira – kira sampai jam 5″Jawabnya disertai senyuman manis

Akupun mengangguk dengan senyum,Rena memang gadis paling cantik di kelasku,wajahnya manis,imut,dan cantik,tapi tubuhnya sangatlah indah,dengan payudara sedang,kulit putih,dan pantat berisi,banyak yang benar – benar jatuh cinta padanya,termasuk aku,ataupun orang yang hanya nafsu melihatnya dan menggodanya.Aku sungguh beruntung,Bu Selvi memilihkan kelompokku,aku dan Rena,banyak teman yang iri padaku.

Setelah pulang sekolah,aku sempat beronani mengingat Rena,lalu aku naik ke mobilku yang dikendarai sopirku.

“Bang,nanti pulang jam 5,jangan jemput sebelum jam 5,ya?”Kataku pada sopirku
“Oke,deh”

Sampai di rumahnya,aku masuk ke rumahnya yang cukup besar,maklum ayah Rena pengusaha sibuk yang di rumah pada malam hari,sementara ibu Rena,Bu Alyssa,seorang ibu rumah tangga.

Saat aku masuk,aku disambut oleh Rena dan ibunya,aku tertegun melihat keduanya,Bu Alyssa sama cantiknya dengan Rena,umurnya sudah 36 tahun,tapi wajahnya tetap cantik,tubuhnya ramping,payudara agak besar,dan kulit putihnya tak seperti ibu yang sudah memiliki anak,kontolku berdiri keras melihat keduanya.Nafsuku meningkat drastis.

Akupun diajak ke kamar Rena,sempat aku deg – degan berduaan bersama Rena,tapi nafsuku sangat,akupun berusaha menahan nafsuku dan membantu Rena mengerjakan pekerjaan yang memang disuruh,kami duduk di meja berhadapan.

Selama pekerjaan banyak kukeluarkan godaan padanya disertai candaan,membuatnya tersenyum malu dan mukanya memerah,membuatku terpesona padanya,wajahku yang disebut ganteng oleh teman -temanku sering dilirik oleh Rena.Jam 3 pekerjaan kami sudah selesai,sedangkan aku menyuruh untuk dijemput jam 5,akupun disuruh menemani Rena dulu,sambil menunggu jemputan.

“Ryan,kamu lucu banget,ya?”
“Oh,tentu,dong”Jawabku bangga
“Tapi kamu juga ganteng”
“Ahh,kamu juga cantik,kok”Jawabku romantis.

Kini kami berpandangan,kuletakkan tanganku pada tangan lembutnya di atas meja,lalu aku duduk di sebelahnya,kumajukan kepalaku ke kepalanya,dia tampak diam saja,kini kami berciuman romantis,bibirnya terasa hangat,kukulum bibirnya selama 5 menit,karena sudah bernafsu,kucoba meremas payudaranya dengan perlahan dan lembut,saat tanganku menyentuh payudaranya,dia tampak membiarkan saja,sehingga kini kami berciuman sambil tanganku meremas payudaranya.

Sekitar 5 menit lagi kami melakukan begitu,lalu tiba – tiba pintu kamar dibuka,segera kulepaskan ciumanku dan kembali seperti tak terjadi apa – apa,sungguh sayang,pikirku dalam hati.Bu Alyssa masuk dan berkata

“Rena,kamu dipanggil papa ke kantor,ada urusan penting”

Rena semula menolak,tapi setelah dipaksa,diapun setuju,sementara kini Bu Alyssa duduk di sebelahku,tangannya diletakkan di pahaku,kontolku mengeras dengan cepat,diapun berkata

“Nak Ryan,tadi tante lihat,kok apa yang kamu lakukan sama Rena”
“Hmm,Hmmmm”Aku takut dan gugup takut dimarahi
“Gak apa – apa,kok,tante gak nyalahin kamu,tubuh Rena memang menggairahkan,sih”

Aku agak kaget mendengar itu

“Ryan,kamu tahu,gak?Tante sekarang nafsu,nih melihat kalian tadi berciuman dan remas”

Aku pura – pura kebingungan,tapi aku nafsu mendengarnya.

Kini tangannya yang diletakkan di pahaku mengelus – elus lembut kontolku sementara dia menuntun tanganku ke payudaranya,lalu dia mengarahkan kepalanya ke kepalaku,lalu kami berciuman lembut,tanganku kini mulai meremas payudaranya yang masih kencang,lalu Bu Alyssa membuka celanaku sambil aku membuka bajunya,kini kontolku terpampang,dia agak kaget dengan ukurannya,lalu akupun membuka bajunya dan BHnya,payudaranya memiliki puting kecoklatan dan masih kencang,langsung saja dia mengulum kontolku yang mengarah ke atas karena kami masih duduk,kulumannya sungguh enak,membuatku memejamkan mata sambil meremas payudaranya.

Kini kubuka celananya,lalu CDnya yang sudah basah,terlihatlah vaginanya yang masih indah meskipun sudah mempunyai dua anak,masih berwarna kemerahan dengan bulu halus yang dicukur rapi,akupun menjilat vaginanya,sangat nikmat dan harum,jilatanku semakin membuat vaginanya basah,dia meronta – ronta kegelian dan kenikmatan,kini aku kembali duduk di kursi,Bu Alyssa naik ke pangkuanku,dia memaskan vaginanya pada kontolku,lalu kuletakkan tanganku di pinggulnya,kini kontolku sudah masuk di vagina Bu Alyssa,pertama perlahan,lalu semakin cepat,aku menaikturunkan tubuh Bu Alyssa dengan cepat,membuat dia memejamkan mata dan vaginanya semakin basah,kurasakan kontolku dipijat oleh otot vaginanya,sangat nikmat sehingga mebuatku mendesah kenikmatan,sementara kunaikturunkan tubuh seksinya dengan cepat.

“Ahhhh,Akkkhhh,Sssst,enak,Ryan,terus,Ahhhh”

Vaginanya mengeluarkan cairan hangat yang membasahi kontolku,lalu kupelankan sedikit karena aku sudah merasa mau keluar,kuangkat tubuhnya ke kursi sebelah,lalu kusodorkan kontolku padanya,dia mengocoknya,lalu keluarlah spermaku yang membasahi mukanya.

“Tante belum puas,Ryan,kamu masih ingin,gak?”
“Iya,tante”

Akupun mengangkat tubuhnya,kubaringkan ke kasur,dia membuka lebar kakinya,kuperhatikan vaginanya yang sudah sangat basah,sangat indah,

“Ngapain kamu,Ryan?Ayo cepat tancapkan”
“Iya,tante”

Dia menuntun kontolku masuk dalam vaginanya,setelah masuk,kumajumundurkan dengan cepat membuatnya mengejang dan mendesah kenikmatan,pijatan vaginanya pada kontolku semakin keras dan nikmat,membuatku memejamkan mata menikmati vaginanya,

“Ahhhh,Ehhhm,Akkkkk,Ahhhhhhh”

Desahan Bu Alyssa menambah nafsuku,tubuh dan wajah keringatnya menambah nafsuku,membuat dia mendesah lebih keras

“Akkkh,Ryan,tante mau keluar”

Vagina Bu Alyssa mengeluarkan cairan hangat yang juga berjumlah banyak,kukeluarkan kontolku dari vaginanya yang dari tadi memijat nikmat kontolku,lalu kusodorkan padanya,kocokan Bu Alyssa sangat enak,sehingga 1 menit kemudian spermaku keluar dengan deras lagi,lalu Bu Alyssa membersihkannya dengan mulutnya,kami terbaring dalam keadaan telanjang sambil berpelukan

“Gila,tante belum pernah secapek ini,Ryan,juga belum pernah senikmat ini”

Aku tersenyum mendengarnya,lalu kami segera membersihkan bekas orgasme Bu Alyssa dan spermaku,lalu kami berpakaian kembali lalu melakukan french kiss,nafsuku naik lagi,ingin aku melanjutkannya di kamar mandi,akupun mengajak Bu Alyssa,dia setuju,lalu kami melakukannya lagi di kamar mandi sampai jam 04.30,Rena pulang kembali ke rumah dan kami berbincang – bincang seperti tak terjadi apa -apa.

Sejak kejadian itu aku semakin sering main ke rumah Rena,dan tentu saja menikmati Bu Alyssa,ibunya sudah kunikmati,sisa anaknya.

mimpi basah yang indah

Cerita Sex xxx ngentot dengan cewek bispak gadis sampul. Siang itu panas sekali ketika aku melangkah keluar dari kampus menuju ke mobilku di tempat parkir. Segera kupacu pulang mobilku, tapi sebelumnya mampir dulu beli es dawet di kios di pinggir jalan menuju arah rumahku. Setelah sampai rumah dan kumasukkan mobil ke garasi, segera kuganti baju dengan seragam kebesaran, yaitu kaos kutang dengan celana kolor. Kucuci tangan dan muka, kemudian kuhampiri meja makan dan mulai menyantap makan siang lalu ditutup dengan minum es dawet yang kubeli tadi, uaaaah… enak sekali… jadi terasa segar tubuh ini karena es itu. Setelah cuci piring, kemudian aku duduk di sofa, di ruang tengah sambil nonton MTV, lama kelamaan bosan juga. Habis di rumah tidak ada siapa-siapa, adikku belum pulang, orang tua juga masih nanti sore. Pembantu tidak punya. Akhirnya aku melangkah masuk ke kamar dan kuhidupkan kipas angin, kuraih majalah hiburan yang kemarin baru kubeli. Kubolak-balik halaman demi halaman, dan akhirnya aku terhanyut. Tiba-tiba bel pintu berbunyi, aku segera beranjak ke depan untuk membuka pintu. Sesosok makhluk cantik berambut panjang berdiri di sana. Sekilas kulihat wajahnya, sepertinya aku pernah lihat dan begitu familiar sekali, tapi siapa ya..? “Cari siapa Mbak..?” tanyaku membuka pembicaraan. “Ehm… bener ini Jl. Garuda no.20, Mas..?” tanya cewek itu. “Ya bener disini, tapi Mbak siapa ya..? dan mau ketemu dengan siapa..?” tanyaku lagi. “Maaf Mas, kenalkan… nama saya Rika. Saya dapat alamat ini dari temen saya. Mas yang namanya Adi ya..?” sambil cewek itu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Segera kusambut, aduuuh… halus sekali tanganya. “Eng… iya, emangnya temen Mbak siapa ya..? kok bisa tau alamat sini..?” tanyaku. “Anu Mas, saya dapat alamat ini dari Bimo, yang katanya temennya Mas Adi waktu SMA dulu…” jelas cewek itu. Sekilas aku teringat kembali temanku, Bimo, yang dulu sering main kemana-mana sama aku. “Oooh… jadi Mbak Rika ini temennya Bimo, ayo silahkan masuk… maaf tadi saya interogasi dulu.” Setelah kami berdua duduk di ruang tamu baru aku tersadar, ternyata Rika ini memang dahsyat, benar-benar cantik dan seksi. Dia saat itu memakai mini skirt dan kaos ketat warna ungu yang membuat dadanya tampak membusung indah, ditambah wangi tubuhnya dan paha mulus serta betis indahnya yang putih bersih menantang duduk di hadapanku. Sekilas aku taksir payudaranya berukuran 34B. Setelah basa-basi sebentar, Rika menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu ingin tanya-tanya tentang jurusan Public Relation di fakultas Fisipol tempat aku kuliah. Memang Rika ini adalah cewek pindahan dari kota lain yang ingin meneruskan di tempat aku kuliah. Aku sendiri di jurusan advertising, tapi temanku banyak yang di Public Relation (yang kebanyakan cewek-cewek cakep dan sering jadi model buat mata kuliah fotografi yang aku ambil), jadi sedikit banyak aku tahu. Kami pun cepat akrab dan hingga terasa tidak ada lagi batas di antara kami berdua, aku pun sudah tidak duduk lagi di hadapannya tapi sudah pindah di sebelah Rika. Sambil bercanda aku mencuri-curi pandang ke wajah cantiknya, paha mulusnya, betis indahnya, dan tidak ketinggalan dadanya yang membusung indah yang sesekali terlihat dari belahan kaos ketatnya yang berleher rendah. Terus terang saja si kecil di balik celanaku mulai bangun menggeliat, ditambah wangi tubuhnya yang membuat terangsang birahiku. Aku mengajak Rika untuk pindah ke ruang tengah sambil nonton TV untuk meneruskan mengobrol. Rika pun tidak menolak dan mengikutiku masuk setelah aku mengunci pintu depan. Sambil ngemil hidangan kecil dan minuman yang kubuat, kami melanjutkan ngobrol-ngobrol. Sesekali Rika mencubit lengan atau pahaku sambil ketawa-ketiwi ketika aku mulai melancarkan guyonan-guyonan. Tidak lama, adik kecilku di balik celana tambah tegar berdiri. Aku kemudian usul ke Rika untuk nonton VCD saja. Setelah Rika setuju, aku masukkan film koleksiku ke dalam player. Filmnya tentang drama percintaan yang ada beberapa adegan-adegan ranjang. Kami berdua pun asyik nonton hingga akhirnya sampai ke bagian adegan ranjang, aku lirik Rika matanya tidak berkedip melihat adegan itu. Kuberanikan diri untuk merangkul bahu Rika, ternyata dia diam saja tidak berusaha menghindar. Ketika adegan di TV mulai tampak semakin hot, Rika mulai gelisah, sesekali kedua paha mulusnya digerak-gerakkan buka tutup. Wah, gila juga nih cewek, seakan-akan dia mengundang aku untuk menggumulinya. Aku beranikan diri untuk mengelus-elus lengannya, kemudian rambutnya yang hitam dan panjang. Rika tampak menikmati, terbukti dia langsung ngelendot manja ke tubuhku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, langsung kupeluk tubuh hangatnya dan kucium pipinya. Rika tidak protes, malah tangannya sekarang diletakkan di pahaku, dan aku semakin terangsang lalu kuraih dagunya. Kupandang mata bulat indahnya, sejenak kami berpandangan dan entah siapa yang memulai tiba-tiba, kami sudah berpagutan mesra. Kulumat bibir bawahnya yang tebal nan seksi itu dan Rika membalas, tangannya yang satu memeluk leherku, sedang yang satunya yang tadinya di pahaku sekarang sudah mengelus-elus yuniorku yang sudah super tegang di balik celanaku. Lidah kami saling bertautan dan kecupan-kecupan bibir kami menimbulkan bunyi cepak cepok, yang membuat semakin hot suasana dan seakan tidak mau kalah dengan adegan ranjang di TV. Tanganku pun tidak mau tinggal diam, segera kuelus paha mulusnya, Rika pun memberi kesempatan dengan membuka pahanya lebar-lebar, sehingga tanganku dengan leluasa mengobok-obok paha dalamnya sampai ke selangkangan. Begitu bolak-balik kuelus dari paha lalu ke betis kemudian naik lagi ke paha. Sambil terus melumat bibirnya, tanganku sudah mulai naik ke perutnya kemudian menyusup terus ke dadanya. Kuremas dengan gemas payudaranya walau masih tertutup kaos, Rika merintih lirih. Lalu tanganku kumasukkan ke dalam kaosnya dan mulai meraba-raba mencari BH-nya. Setelah ketemu lalu aku meraih ke dalam BH dan mulai meremas-remas kembali buah dadanya, kusentuh-sentuh putingnya dan Rika mendesah. Seiring dengan itu, tangan Rika juga mengocok yuniorku yang masih tertutup celana dalam, dan mulai dengan ganas menyusup ke dalam celana dalam meraih yuniorku dan kembali mengocok dan mengelus. Aku yang sudah mulai terbakar birahi, kemudian melepaskan kaos Rika dan BH-nya hingga sekarang nampak jelas payudaranya yang berukuran 34B semakin mengembang karena rangsangan birahi. Langsung aku caplok buah dadanya dengan mulutku, kujilat-jilat putingnya dan Rika mendesis-desis keenakan, “Sssh… aaauuh… Mass Adiii… ehhh… ssshhh…” sambil tangannya mendekap kepalaku, meremas-remas rambutku dan membenamkannya ke payudaranya lebih dalam. Kutarik kepalaku dan kubisikkan ke telinga Rika, “Rika sayang, kita pindah ke kamarku aja yuuk..! Aman kok nggak ada siapa-siapa di rumah ini selain kita berdua…” Rika mengangguk, lalu segera kupeluk dan kugendong dia menuju ke kamar. Posisi gendongnya yaitu kaki Rika memeluk pinggangku, tangannya memeluk leherku dan payudaranya menekan keras di dadaku, sedangkan tanganku memegang pantatnya sehingga yuniorku sekarang sudah menempel di selangkangannya. Sepanjang perjalanan menuju kamar, kami terus saling berciuman. Sesampainya di kamar, kurebahkan tubuhnya di tempat tidur, Rika tidak mau melepaskan pelukan kakinya di pinggangku malahan sekarang mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya. “Sayang… sabar dong.., lepas dulu dong rok sama celana kamu…” kataku. “Oke Mas… tapi Mas juga harus lepas baju sama celana Mas, biar adil..!” rajuk Rika. Setelah kulepas baju dan celanaku hingga telanjang bulat dan yuniorku sudah mengacung keras tegak ke atas, Rika yang juga sudah telanjang bulat kembali merebahkan diri sambil mengangkangkan pahanya lebar-lebar, hingga kelihatan bibir vaginanya yang merah jambu itu. Aku pun segera menindihnya, tapi tidak buru-buru memasukkan yuniorku ke vaginanya, kembali aku kecup bibirnya dan kucaplok dan jilat-jilat payudara serta putingnya. Jilatanku turun ke perut terus ke paha mulusnya kemudian ke betis indahnya naik lagi ke paha dalamnya hingga sampai ke selangkangannya. “Auuww… Mas Adiiii… ehhmm… shhh… enaaaakkk Masss…” ceracau Rika sambil kepalanya menggeleng-geleng tidak karuan dan tangannya mencengkeram sprei ketika aku mulai menjilati bibir vaginanya, terus ke dalam memeknya dan di klitorisnya. Dengan penuh nafsu, terus kujilati hingga akhirnya tubuh Rika menegang, pahanya mengempit kepalaku, tangannya menjambak rambutku dan Rika berteriak tertahan. Ternyata dia telah mencapai orgasme pertamanya, dan terus kujilati cairan yang keluar dari lubang kenikmatannya sampai habis. Aku bangun dan melihat Rika yang masih tampak terengah-engah dan memejamkan mata menghayati orgasmenya barusan. Kukecup bibirnya, dan Rika membalas, lalu aku menarik tangannya untuk mengocok penisku. Aku rebahkan tubuhku dan Rika pun mengerti kemauanku, lalu dia bangkit menuju ke selangkanganku dan mulai mengemut penisku. “Oooh… Rik… kamu pinter banget sih Rik…” aku memuji permainannya. Kira-kira setengah jam Rika mengemut penisku. Mulutnya dan lidahnya seakan-akan memijat-mijat batang penisku, bibirnya yang seksi kelihatan semakin seksi melumati batang dan kepala penisku. Dihisapnya kuat-kuat ketika Rika menarik kepalanya sepanjang batang penis menuju kepala penisku membuatku semakin merem-melek keenakan. Setelah bosan, aku kemudian menarik tubuh Rika dan merebahkannya kembali ke tempat tidur, lalu kuambil posisi untuk menindihnya. Rika membuka lebar-lebar selangkangannya, kugesek-gesekkan dulu penisku di bibir vaginanya, lalu segera kumasukkan penisku ke dalam lubang senggamanya. “Aduuh Mas… sakiiit… pelan-pelan aja doong… ahhh…” aku pun memperlambat masuknya penisku, sambil terus sedikit-sedikit mendorongnya masuk diimbangi dengan gerakan pinggul Rika. Terlihat sudut mata Rika basah oleh air matanya akibat menahan sakit. Sampai akhirnya, “Bleeesss…” masuklah semua batang penisku ke dalam liang senggama Rika. “Rika sayang, punya kamu sempit banget sih..? Tapi enak lho..!” Rika cuma tersenyum manja. “Mas juga, punya Mas besar gitu maunya cari yang sempit-sempit, sakit kaan..!” rajuk Rika. Aku ketawa dan mengecup bibirnya sambil mengusap air matanya di sudut mata Rika sambil merasakan enaknya himpitan kemaluan Rika yang sempit ini. Setelah beberapa saat, aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dengan pelan-pelan. “Aaah… uuuhhh… oooww… shhh… ehhmmm…” desah Rika sambil tangannya memeluk erat bahuku. “Masih sakit Sayaaang..?” tanyaku. “Nggak Mas… sedikiiitt… auuoohhh… shhh… enn.. ennnaakk.. Mas… aahh…” jawab Rika. Mendengar itu, aku pun mempercepat gerakanku, Rika mengimbangi dengan goyangan pinggulnya yang dahsyat memutar ke kiri dan ke kanan, depan belakang, atas bawah. Aku hanya bisa merem melek sambil terus memompa, merasakan enaknya goyangan Rika. Tidak lama setelah itu, kurasakan denyutan teratur di dinding vagina Rika, kupercepat goyanganku dan kubenamkan dalam-dalam penisku. Tanganku terus meremas-remas payudaranya. Dan tubuh Rika kembali menegang, “Aaah… Masss Adiiii… teruuus Maass… jangan berentiii… oooh… Maasss… aaahhh… akuuuu mauuu keluaaar… aaawww…” Dan, “Cret… cret… crettt…” kurasakan cairan hangat menyemprot dari dalam liang senggama Rika membasahi penisku. Kaki Rika pun memeluk pinggangku dan menarik pinggulku supaya lebih dalam masuknya penisku ke dalam lubang kenikmatannya. Ketika denyutan-denyutan di dinding vagina Rika masih terasa dan tubuh Rika menghentak-hentak, aku merasa aku juga sudah mau keluar. Kupercepat gerakanku dan, “Aaah… Rikaaa… aku mau keluar Sayaaang…” belum sempat aku menarik penisku karena kaki Rika masih memeluk erat pinggangku, dan, “Crooot… crooot… crooott…” aku keluar di dalam kemaluan Rika. “Aduuhhh enakkknyaaa…” Dan aku pun lemas menindih tubuh Rika yang masih terus memelukku dan menggoyang-goyangkan pinggulnya. Aku pun bangkit, sedangkan penisku masih di dalam liang senggama Rika dan kukecup lagi bibirnya. Tiba-tiba, “Greeekkk…” aku dikejutkan oleh suara pintu garasi yang dibuka dan suara motor adikku yang baru pulang. Aku pun cepat-cepat bangun dan tersadar. Kulihat sekeliling tempat tidurku, lho… kok… Rika hilang, kemana tuh cewek..? Kuraba penisku, lho kok aku masih pake celana dan basah lagi. Kucium baunya, bau khas air mani. Kulihat di pinggir tempat tidur masih terbuka majalah hiburan khusus pria yang kubaca tadi. Di halaman 68, di rubrik wajah, kulihat wajah seorang cewek cantik yang tidak asing lagi yang baru saja kutiduri barusan, yaitu wajah Rika yang menggunakan swimsuit di pinggir kolam renang. Yaaa ampuun… baru aku sadar, pengalaman yang mengenakkan tadi bersama Rika itu ternyata cuma mimpi toh. Dan Rika yang kutiduri dalam mimpiku barusan adalah cover girl cantik dan seksi majalah yang kubaca sebelum aku tertidur tadi, yang di majalah dia mengenakan swimsuit merah. Aku pun segera beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Di dalam kamar mandi aku ketawa sendiri dalam hati mengingat-ingat mimpi enak barusan. Gara-gara menghayal yang tidak-tidak, jadinya mimpi basah deeh.

cheat PS2 harvest moon save the homeland

CHEATS PS 2

bully english :

  • English Class 1 Create 7 words from the letters “ELMOLW”. Here are some words to use for this puzzle: Ell, Elm, Low, Mel, Mew, Mol, Mow, Ole, Owe, Owl, Lowe, Meow, Mewl, Mole, Moll, Well, Mellow.
  • English Class 2 Create 14 words from the letters “THFSGI”. Here are some words to use for this puzzle: Fig, Fit, His, Hit, Its, Sit, Figs, Fish, Fist, Fits, Gift, Gist, Hits, Sift, Sigh, This, Fight, Gifts, Shift, Sight, Fights.
  • English Class 3 Create 15 words from the letters “ELISSM”. Here are some words to use for this puzzle: Elm, Ism, Lei, Lie, Mil, Elms, Isle, Isms, Leis, Less, Lies, Lime, Mess, Mile, Mils, Miss, Semi, Sims, Slim, Isles, Limes, Miles, Seism, Semis, Slime, Slims, Smile, Slimes, Smiles.
  • English Class 4 Create 19 words from the letters “RAOCYN”. Here are some words to use for this puzzle: Any, Arc, Can, Car, Cay, Con, Coy, Cry, Nay, Nor, Oar, Ran, Ray, Roc, Yon, Corn, Cory, Cyan, Narc, Racy, Roan, Yarn, Acorn, Corny, Crony, Rayon, Crayon.
  • English Class 5 Create 22 words from the letters “DGRAGE”. Here are some words to use for this puzzle: Age, Are, Dag, Ear, Egg, Era, Erg, Gad, Gag, Rag, Red, Aged, Dare, Dear, Drag, Dreg, Egad, Gage, Gear, Grad, Rage, Read, Agger, Grade, Raged, Dagger, Ragged.

THE SIMS 2

The Sims 2 Unlockable: Gnome
Belum diverifikasi. Untuk mengungkap mengunting Trophy Bob pada banyak, sementara permainan dan memasukkan L1, R1, UP, X, R2.

Catatan semua cheats diakses dari cheat gnome di halaman (depan Sim dari banyak).

The Sims 2 Cheat: Isi Semua motif
Membuka Gnome. Kemudian jeda permainan dan memasukkan UP, CIRCLE, UP, RIGHT, L2.

The Sims 2 Cheat: Semua Objek
Membuka Gnome. Kemudian jeda permainan dan memasukkan L2, CIRCLE, DOWN, LEFT, UP.

The Sims 2 Cheat: Semua Fesyen
Membuka Gnome. Kemudian jeda permainan dan memasukkan SQUARE, R2, DOWN, RIGHT, SQUARE.

The Sims 2 Cheat: Semua Resep
Membuka Gnome. Kemudian jeda permainan dan masukkan R2, SQUARE, UP, DOWN, RIGHT, X.

The Sims 2 Cheat: Tim Gambar
Membuka Gnome. Kemudian jeda permainan dan memasukkan RIGHT, DOWN, RIGHT, DOWN, RIGHT.

The Sims 2 Cheat: Audio Track
Membuka Gnome. Kemudian jeda permainan dan memasukkan R1, L1, R1, L1, Triangle.

The Sims 2 Hint: Super Smoothie

Mengumpulkan bahan-bahan ini: Strawberry, manggis, Starfruit, kesemak (setelah panen mereka dari satu atau lebih Frood Pohon). Go to your countertop dan pilih “Prep buah kolak” atau “Membuat buah”. Menuju ke blender dan “Membuat buah seorang yg pandai”.

Anda akan membuat seorang yg pandai dengan statistik ini:

Kelaparan 103
Energi 65
Pekencingan -8
Untuk meningkatkan “Fun”
Aphrodesiac Efek
Meningkatkan keterampilan Efek
Persyaratan (untuk mendapatkan statistik ini tepat):

10 tingkat keahlian memasak
“Multiquick Blender”
“U-Probe Penyalahgunaan Refrigerating organisme”
“U-Probe Penyalahgunaan Counter Atas”
” ‘Frood’ Pohon”

harvesmon save home land

Harvest Moon: Save the Homeland Bagaimana Kereta Anda Dog
Once you get a dog to stay on your farm, you’ll have to train him with the Flute, once you get it. Setelah Anda mendapatkan anjing untuk tinggal di peternakan, anda harus melatih dia dengan flute, sekali Anda mendapatkannya. To do so select the Flute, press X, then use the following button presses in order to get him to do what you wish: Untuk melakukannya pilih flute, tekan X, kemudian gunakan dengan menekan tombol berikut ini untuk mendapatkan dia untuk melakukan apa yang anda inginkan:

Sit: UP, LEFT, DOWN Duduk: UP, LEFT, DOWN
Down: UP, DOWN, DOWN Bawah: UP, DOWN, DOWN
Heel: LEFT, RIGHT, RIGHT Heel: LEFT, RIGHT, RIGHT
Drive animals: RIGHT, LEFT, RIGHT Drive hewan: RIGHT, LEFT, RIGHT
Jump: LEFT, UP, RIGHT Jump: LEFT, UP, RIGHT
Sit up: DOWN, UP, UP Duduk: DOWN, UP, UP

Harvest Moon: Save the Homeland Power Berry Locations Harvest Moon: Save the Homeland Power Berry Lokasi
To get the Power Berries scattered around the land, look in these places: Untuk mendapatkan daya Berries tersebar di seluruh tanah, terlihat di tempat ini:1. 1. In your pasture. Anda rumput.
2. 2. Visit the Harvest Goddess. Kunjungi Panen Goddess.
3. 3. Visit the Harvest Sprites. Kunjungi Panen Sprites.
4. 4. Go fishing. Pergi memancing.
5. 5. Trigger the “Sacred Land” event. Memicu “Tanah Haram” event.
Harvest Moon: Save the Homeland How to Get the Horse Harvest Moon: Save the Homeland Cara Dapatkan Kuda
To get the horse, you’ll have to visit Bob’s farm quite a bit. Untuk mendapatkan kuda, anda harus mengunjungi Bob tani cukup sedikit. Do part-time work taking care of his horses and cows and give him lots of presents. Melakukan pekerjaan paruh waktu merawat orang kuda dan sapi dan dia memberikan banyak hadiah. Eventually, after a solid chunk of work (a season or more), he’ll bring a horse to you. Akhirnya, setelah yang solid bingkah kerja (satu musim atau lebih), ia akan membawa Anda ke kuda.
Harvest Moon: Save the Homeland How to Get the Dog Harvest Moon: Save the Homeland Cara Dapatkan Dog
When you begin the game, you’ll notice several stray dogs wandering around. Bila Anda memulai permainan, Anda akan melihat beberapa stray dogs wandering sekitar. If you approach them, they’ll run away. Jika Anda pendekatan mereka, mereka akan melarikan diri. To woo a dog to your yard, keep putting food in his bowl. Untuk woo anjing ke halaman Anda, tetap meletakkan makanan dalam mangkuk. Anything will do: grass, eggs, berries. Akan melakukan sesuatu: rumput, telur, berries. When you place these foods in the bowl, they immediately turn into doggie mush. Bila Anda menempatkan makanan tersebut dalam mangkuk, mereka segera menjadi bubur doggie. After a while, you will notice the dog appearing at your farm more and more. Setelah beberapa lama, Anda akan melihat anjing yang muncul di peternakan dan lebih banyak lagi. Keep trying to pick up the dog (X). Terus mencoba untuk mengambil anjing (X). At some point, he will let you pick him up, and he will be yours! Di beberapa titik, ia akan membiarkan Anda memilih dia atas, dan ia akan menjadi milikmu!
Harvest Moon: Save the Homeland Birthday List Harvest Moon: Save the Homeland Birthday List
It’s important to give townspeople greetings and gifts on their birthday, to get in their good graces. Sangat penting untuk memberikan wargakota haiyaa dan hadiah ulang tahun mereka, untuk mendapatkan mereka baik graces. Here’s a list of all of the birthdays in town: Berikut ini adalah daftar semua yang ulang tahun di kota:Ronald the Supermarket Owner: Spring 11 Ronald di Supermarket Pemilik: Spring 11
Wallace the Cafe Owner: Summer 1 Wallace di Cafe Pemilik: Summer 1
Katie the Cafe Waitress: Fall 29 Katie pelayan di Cafe: Fall 29
Louis the Tool Shop Owner: Fall 2 Louis yang Alat Shop Owner: Fall 2
Lyla the Flower Shop Owner (and cutest girl in town): Spring 27 Lyla yang Pramutamu Pemilik (dan cutest girl dalam kota): Spring 27
Parsley the Plant Hunter: Spring 16 Parsley yang Plant Hunter: 16 Spring
Bob, owner of Brownie Farm: Summer 1 Bob, pemilik Brownie Farm: 1 Summer
Tim, Bob’s little brother (the treasure hunter): Fall 12 Tim, Bob Little Brother (harta yang hunter): Fall 12
Gwen, the Carpenter’s daughter: Summer 8 Gwen, the carpenter’s daughter: Summer 8
Martha the Clove Villa Maid: Winter 25 Martha yang Cengkeh Villa Maid: Winter 25
Gina, the Maid’s daughter: Fall 20 Gina, yang Maid’s daughter: 20 Fall
Dia, Clove Villa daughter: Winter 9 Dia, Villa Cengkeh putri: Winter 9
Woody the Carpentry Shop Owner: Winter 2 Pekerjaan tukang kayu yang woody Shop Owner: Winter 2
Joe the Carpenter: Summer 10 Joe the carpenter: Summer 10
Kurt the Carpenter: Winter 10 Kurt yang carpenter: Winter 10
Harvest Moon: Save the Homeland What the Townspeople Like Harvest Moon: Save the Homeland Seperti Apa yang wargakota
Here’s a list of what the various townpeople really enjoy. Berikut adalah daftar tentang apa yang benar-benar menikmati berbagai townpeople. Give them these presents in order to get on their good side: Memberikan hadiah tersebut untuk mendapatkan mereka baik pada sisi:Ronald the Supermarket Owner: Cake Ronald di Supermarket Pemilik: Cake
Parsley the Plant Hunter: Herb Tea Parsley yang Plant Hunter: Herb Tea
Lyla the Flower Shop Owner: Pink Cat Flowers/Blueberries Lyla yang Pramutamu Pemilik: Pink Cat Flowers / Blueberries
Wallace the Cafe Owner: Tea/Fish Wallace di Cafe Pemilik: Teh / Ikan
Bob, owner of Brownie Farm: Sweets Bob, pemilik Brownie Farm: Sweets
Joe the Carpenter: Fish Joe the carpenter: Ikan
Katie the Cafe Waitress: Cookies/Cheese Katie pelayan di Cafe: Cookie / Cheese
Louis the Tool Shop Owner: Eggs Louis yang Alat Shop Owner: Telur
Tim, Bob’s little brother: Eggs/Cake/Tea Tim, Bob Little Brother: Telur / Cake / Teh
Gina, the Maid’s daughter: Fish/Eggs Gina, yang Maid’s daughter: Ikan / Telur
Dia, Clove Villa daughter: Blueberries Dia, Villa Cengkeh daughter: Blueberries
Kurt the Carpenter: Tomatoes Kurt yang carpenter: Tomatoes
Martha the Clove Villa Maid: Cheese Martha yang Cengkeh Villa Maid: Cheese
Harvest Moon: Save the Homeland Hint: Cheap Chickens Harvest Moon: Save the Homeland Petunjuk: Murah ayam
To get chickens at the very beginning of the game for almost no money at all, go to the supermarket that you can see when you leave the farm. Untuk mendapatkan ayam ini di awal permainan untuk hampir tidak ada uang sama sekali, pergi ke supermarket yang dapat Anda lihat ketika Anda meninggalkan peternakan. Go in there and buy an egg for $50. Pergi di sana dan beli telur untuk $ 50. Put that egg in the incubator in your chicken coop and in a few days you will have a little chick! Yang menaruh telur di inkubator ayam di kandang ayam dan dalam beberapa hari Anda akan memiliki sedikit chick! Then it will turn into a chicken and you can get eggs for free. Maka akan menjadi ayam dan telur Anda bisa mendapatkan secara gratis.
Harvest Moon: Save the Homeland Event Triggers Harvest Moon: Save the Homeland Even Pemicu
To trigger an event you must befriend these people: Untuk memicu aktivitas Anda harus menolong orang-orang ini:
Treasure Hunt 1: You must befriend Tim. Treasure Hunt 1: Anda harus melindungi Tim.
Treasure Hunt 2: Same as number one. Treasure Hunt 2: Sama dengan nomor satu.
Cake Contest: Befriend Katie. Cake Contest: menolong Katie.
A fishy Story: Befriend Joe. J amis Story: melindungi Joe.
The Bluebird: Befriend Louis. The Bluebird: Louis menolong.
The Azure Swallowtail: Befriend Lyla and Kurt. The Azure Swallowtail: melindungi dan Lyla Kurt.
The Goddess Dress: Befriend Gina and Dia. The Goddess Dress: Gina dan menolong Dia.
The endangered Weasel: Befriend Gwen. Yang terancam punah Weasel: menolong Gwen.
The Horse Race: Befriend Bob and Gwen. The Horse Race: melindungi dan Bob Gwen.

Hello world!

selamat datang di blog saya, semoga kalian suka dengan cerita” yang telah di siapkna, walaupun g smuanya asli saya yang menulis,,, thx